Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Fluktuasi harga cabai yang kerap memicu inflasi di Kabupaten Berau mendorong pemerintah daerah mencari solusi yang lebih berkelanjutan.
Bukan melalui operasi pasar semata, tetapi dengan mengajak masyarakat memproduksi sendiri kebutuhan pangannya dari halaman rumah.
Melalui Dinas Pangan, Pemerintah Kabupaten Berau mulai menyiapkan gerakan pemanfaatan lahan pekarangan sebagai “lumbung hidup” keluarga.
Konsep yang mengadopsi urban farming ini diyakini mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah sekaligus menjaga kestabilan harga komoditas strategis.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pangan Berau, Tenteram Rahayu mengatakan bahwa meski gerakan urban farming belum secara resmi diterapkan di Berau, konsep tersebut bukan hal baru.
Sebelumnya, pemerintah telah menjalankan Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang memiliki tujuan serupa, yakni mengoptimalkan lahan di sekitar rumah untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
“Kalau secara gerakan memang belum ada. Tetapi sebelumnya kita sudah memiliki Program Pekarangan Pangan Lestari yang prinsipnya hampir sama, yaitu memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga,” ujarnya.
Ke depan, Dinas Pangan akan menggalakkan gerakan menanam cabai secara masif. Tidak hanya menyasar masyarakat, tetapi juga melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sekolah, hingga lingkungan Rukun Tetangga (RT).
Pemilihan cabai bukan tanpa alasan. Komoditas tersebut selama ini menjadi salah satu penyebab utama naik turunnya inflasi pangan di Berau.
Dengan semakin banyak masyarakat yang menanam cabai sendiri, diharapkan kebutuhan rumah tangga dapat dipenuhi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pasokan pasar.
“Kami berharap gerakan tanam cabai ini bisa dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kantor-kantor OPD, sekolah sampai ke lingkungan RT,” katanya.
Menurut Tenteram, manfaat urban farming tidak hanya dirasakan masyarakat perkotaan. Wilayah pesisir yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan juga dinilai sangat membutuhkan konsep tersebut.
Saat cuaca buruk melanda dan nelayan tidak dapat melaut, keberadaan kebun kecil di pekarangan rumah dapat menjadi sumber pangan alternatif bagi keluarga. Sayuran, cabai, maupun tanaman pangan lainnya bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus menunggu pasokan dari luar daerah.
Selain memperkuat ketahanan pangan keluarga, langkah tersebut juga diharapkan mampu membangun kebiasaan masyarakat untuk memanfaatkan lahan kosong yang selama ini belum produktif.
Jika gerakan ini berjalan luas, maka pemerintah optimistis tekanan inflasi akibat kenaikan harga komoditas pangan dapat ditekan, sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.
“Sehingga ketika cuaca tidak mendukung dan aktivitas masyarakat terganggu, mereka tetap memiliki sumber pangan sendiri dan tidak perlu khawatir memenuhi kebutuhan keluarga,” tutupnya. (Adv)



