Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA - Dari 10 unit insinerator yang telah dioperasikan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, fasilitas pengolahan sampah di kawasan Tani Aman masih menghadapi kendala teknis. Permasalahan utama berada pada pasokan air yang belum tersedia secara mandiri.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Suwarso, mengatakan seluruh insinerator sebenarnya sudah mulai beroperasi sejak sekitar sepekan terakhir. Namun, satu unit di Kelurahan Tani Aman masih memerlukan penyempurnaan.
"Beberapa sudah diuji coba, dan seminggu yang lalu semuanya sudah beroperasi. Walaupun masih ada kendala di satu titik, yaitu di Tani Aman," kata Suwarso.
Ia menuturkan bahwa kendala tersebut bukan berasal dari mesin insinerator, melainkan ketersediaan air yang dibutuhkan untuk operasional. Untuk sementara, kebutuhan air masih dipenuhi melalui sambungan dari kantor kelurahan setempat.
"Ke depan tentu harus memasang jaringan sendiri agar lebih optimal," ungkapnya.
Di luar persoalan tersebut, ia memastikan seluruh Sumber Daya Manusia (SDM) yang bertugas mengoperasikan insinerator telah disiapkan.
Suwarso juga menanggapi munculnya asap dari insinerator yang masih terlihat beberapa kali saat pembakaran berlangsung. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh komposisi sampah yang dibakar, terutama jika masih terdapat sampah basah.
"Idealnya harus ditambah bahan bakar yang kering. Ada kemungkinan sampah basah atau rumput ikut masuk sehingga asapnya menjadi lebih tebal," ujarnya.
Meski demikian, hasil pemantauan kualitas udara menunjukkan emisi yang dihasilkan masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan sehingga dinilai aman bagi lingkungan.
"Kualitas udaranya masih di bawah ambang batas. Masih aman. Tapi tentu kami terus mencari solusi agar asapnya semakin berkurang," jelasnya.
Karena itu, DLH kembali menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah. Sampah kering akan diarahkan ke insinerator, sementara sampah organik diolah menjadi kompos dan residunya baru dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Menurut Suwarso, keberhasilan operasional insinerator tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sebelum dibuang. Dengan begitu, proses pembakaran menjadi lebih optimal sekaligus mampu menekan emisi asap.


