Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Pelestarian Bahasa Banua tidak cukup hanya dilakukan melalui kebijakan pemerintah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, Muhammad Said menegaskan, keberhasilan menjaga bahasa daerah bergantung pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari sekolah, keluarga hingga lingkungan sosial.
Hal itu disampaikannya saat peluncuran Bahasa Banua sebagai mata pelajaran muatan lokal di Aula Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB).
Menurutnya, masuknya Bahasa Banua ke dalam kurikulum SMP mulai tahun ajaran 2026/2027 merupakan langkah strategis untuk memastikan bahasa daerah tetap diwariskan kepada generasi muda.
Muhammad Said mengatakan bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari identitas, cara pandang dan warisan budaya yang harus dijaga di tengah derasnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi.
“Kalau tidak mulai kita lestarikan sekarang, generasi muda akan semakin jauh dari bahasa daerahnya. Sekolah menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan kembali kebanggaan terhadap Bahasa Banua,” ujarnya.
Ia menilai pembelajaran Bahasa Banua tidak hanya mengajarkan kemampuan berbahasa, tetapi juga mengenalkan sejarah, adat istiadat, nilai-nilai luhur, serta filosofi kehidupan masyarakat Berau kepada peserta didik.
“Harapannya, anak-anak bukan hanya mampu menggunakan Bahasa Banua, tetapi juga memahami budaya yang melekat di dalamnya sehingga tumbuh rasa memiliki terhadap daerahnya,” katanya.
Namun, ia mengingatkan pelestarian bahasa tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Menurutnya, guru memang menjadi ujung tombak di ruang kelas, tetapi dukungan orang tua dan masyarakat menjadi faktor penting agar Bahasa Banua tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau hanya dipelajari di sekolah, hasilnya tidak akan maksimal. Bahasa Banua harus kembali digunakan di rumah dan di tengah masyarakat agar benar-benar tetap hidup,” pungkasnya. (Adv)



