Banner ADV

Bahasa Banua Resmi Jadi Muatan Lokal, Pelestarian Budaya Dimulai dari Sekolah

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Peluncuran Bahasa Banua sebagai mata pelajaran muatan lokal jenjang SMP di Aula SPNF SKB Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Peluncuran Bahasa Banua sebagai mata pelajaran muatan lokal jenjang SMP di Aula SPNF SKB Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Bahasa Banua Resmi Jadi Muatan Lokal, Pelestarian Budaya Dimulai dari Sekolah

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Peluncuran Bahasa Banua sebagai mata pelajaran muatan lokal jenjang SMP di Aula SPNF SKB Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Peluncuran Bahasa Banua sebagai mata pelajaran muatan lokal jenjang SMP di Aula SPNF SKB Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Bahasa Banua Resmi Jadi Muatan Lokal, Pelestarian Budaya Dimulai dari Sekolah

Peluncuran Bahasa Banua sebagai mata pelajaran muatan lokal jenjang SMP di Aula SPNF SKB Berau. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Upaya menjaga bahasa daerah dari ancaman kepunahan kini dimulai dari ruang kelas.

Mulai tahun ajaran 2026/2027, Bahasa Banua kini diajarkan sebagai mata pelajaran muatan lokal di seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Berau.

Peluncuran program tersebut dilakukan Dinas Pendidikan (Disdik) Berau di Aula Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB), Tanjung Redeb.

Kehadiran Bahasa Banua di bangku sekolah menjadi strategi pemerintah daerah untuk mengenalkan kembali bahasa khas Berau kepada generasi muda sejak dini.

Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisah, mengatakan penyusunan kurikulum Bahasa Banua telah melalui proses panjang bersama Balai Bahasa, tokoh adat, dan para pendidik sejak 2024.

“Bahasa daerah adalah identitas masyarakat. Melalui sekolah, kami ingin memastikan Bahasa Banua tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan seluruh perangkat pembelajaran telah disiapkan sehingga penerapan mata pelajaran tersebut dapat dimulai pada tahun ajaran baru. Ke depan, program serupa juga akan diterapkan di jenjang sekolah dasar.

“Harapan kami, anak-anak tidak hanya mengenal Bahasa Banua, tetapi juga bangga menggunakannya sebagai bagian dari jati diri masyarakat Berau,” tutupnya.

Mardiatul menjelaskan, penerapan Bahasa Banua sebagai muatan lokal tidak hanya bertujuan melestarikan budaya, tetapi juga menjadi bagian dari penyesuaian terhadap kebijakan pendidikan nasional. 

Seiring diberlakukannya Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar paling lambat tahun ajaran 2027/2028, pemerintah daerah memandang perlu menghadirkan mata pelajaran yang merepresentasikan kekhasan daerah.

Ia menuturkan, Bahasa Banua dipilih karena dinilai mampu menjadi sarana memperkuat identitas budaya sekaligus menanamkan kecintaan generasi muda terhadap warisan lokal.

“Kami ingin anak-anak tetap mengenal dan menggunakan bahasa daerahnya. Dengan masuk ke kurikulum sekolah, pelestarian Bahasa Banua bisa berjalan lebih terarah dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, pelaksanaan program tersebut juga telah memiliki landasan hukum yang jelas, mulai dari Peraturan Daerah Kabupaten Berau Nomor 7 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pelestarian Bahasa Banua dan Kebudayaan Berau hingga Peraturan Bupati Nomor 28 Tahun 2025 tentang Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Daerah.

Tahap awal implementasi akan dimulai di seluruh SMP pada tahun ajaran 2026/2027. Selanjutnya, mata pelajaran Bahasa Banua akan diperluas ke jenjang sekolah dasar mulai tahun ajaran 2027/2028. (Adv)