Reporter:Diansyah | Editor: Buniyamin
NUNUKAN – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Nunukan terus memperkuat sistem pengamanan sebagai respons terhadap tingginya tingkat hunian warga binaan yang telah melampaui kapasitas.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menghadirkan Pos Pengawasan dan Pemeriksaan (Pos Wasrik) untuk memperketat pengawasan di area lapas.
Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP) Kelas IIB Nunukan, Putu Bagus Sabda Pramesti, mengatakan pembangunan Pos Wasrik merupakan bagian dari aksi perubahan bertajuk Strategi Peningkatan Pengawasan dan Pemeriksaan Melalui Pembangunan Pos Wasrik pada Lapas Kelas IIB Nunukan.
Menurutnya, keberadaan Pos Wasrik difokuskan untuk memperkuat pengawasan di kawasan perimeter atau area luar lapas yang selama ini masih memiliki sejumlah titik rawan.
Selain itu, pos tersebut berfungsi meningkatkan efektivitas pemeriksaan terhadap seluruh akses keluar masuk orang maupun barang.
"Penguatan sistem keamanan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Saat ini Lapas Nunukan dihuni lebih dari 1.100 warga binaan, sementara kapasitas idealnya hanya 352 orang. Kondisi tersebut menuntut strategi pengamanan yang lebih adaptif dan terukur," ujar Putu Bagus.
Ia menegaskan, keamanan merupakan aspek utama dalam penyelenggaraan pemasyarakatan, sehingga setiap potensi gangguan harus dapat diantisipasi sejak dini, terlebih dengan kondisi hunian yang mengalami kelebihan kapasitas.
"Pembangunan Pos Wasrik menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat sistem pengawasan sekaligus menutup celah-celah keamanan yang masih ada," katanya.
Selain menghadapi persoalan overkapasitas, Lapas Nunukan juga memiliki tingkat mobilitas yang tinggi setiap hari. Aktivitas tersebut meliputi kunjungan masyarakat, distribusi logistik, hingga pelaksanaan program pembinaan di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lanuka.
Tingginya aktivitas tersebut, lanjut Putu Bagus, menuntut sistem pengawasan yang lebih efektif, responsif dan mampu mengendalikan seluruh pergerakan di lingkungan lapas.
"Semakin tinggi aktivitas di dalam maupun di sekitar lapas, semakin besar pula tantangan pengamanan yang kami hadapi. Karena itu, penguatan tidak hanya dilakukan melalui kesiapan personel, tetapi juga dengan penyempurnaan sarana, pola pemeriksaan, serta sistem pengawasan agar seluruh aktivitas dapat terkontrol secara maksimal," jelasnya.
Pos Wasrik nantinya menjadi pusat pemeriksaan seluruh arus keluar masuk orang dan barang menuju kawasan lapas. Keberadaannya diharapkan mampu meningkatkan deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan, mempercepat respons saat terjadi keadaan darurat, serta mencegah masuknya barang-barang terlarang ke dalam lapas.
Lebih jauh, Putu Bagus menilai pembangunan Pos Wasrik bukan sekadar penambahan fasilitas fisik, melainkan bagian dari transformasi sistem pengamanan yang lebih modern, terintegrasi, dan berbasis mitigasi risiko.
Ia berharap keberadaan Pos Wasrik dapat meningkatkan efektivitas pengawasan petugas, mempersempit ruang terjadinya pelanggaran, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan sistem pemasyarakatan di Kabupaten Nunukan.
"Kami terus membangun budaya kerja yang mengedepankan kewaspadaan, profesionalisme, dan deteksi dini. Petugas pengamanan harus mampu membaca potensi gangguan sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Pengamanan yang baik merupakan pondasi utama bagi keberhasilan pembinaan warga binaan," pungkasnya.


