Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda menegaskan Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri di Kota Tepian memang belum mampu untuk menampung seluruh lulusan Sekolah Dasar (SD), baik negeri maupun swasta.
Kondisi ini menjadi salah satu penyebab masih adanya calon peserta didik yang tidak lolos melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur domisili di sekolah negeri.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Samarinda, Wahiduddin, menjelaskan daya tampung SMP negeri bagi peserta didik baru saat ini hanya sekitar 10 ribu kursi, sementara jumlah lulusan SD negeri dan swasta di Samarinda mencapai sekitar 13 ribu siswa.
"Tentu tidak semuanya bisa diterima di sekolah negeri. Masih ada sekolah swasta yang bisa untuk menampung sisanya," terang Wahid.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan berarti Samarinda mengalami kekurangan sekolah. Sebab, pemerintah menghitung kebutuhan pendidikan secara keseluruhan dengan memasukkan kapasitas sekolah negeri dan swasta.
Ia menegaskan pembangunan sekolah baru juga tidak bisa dilakukan secara serta-merta, melainkan harus melalui kajian kebutuhan dan analisis kepadatan penduduk di setiap wilayah. "Kalau semuanya diakomodasi oleh SMP negeri, maka sekolah swasta bisa kolaps karena tidak mendapatkan peserta didik," ungkapnya.
Wahiduddin menjelaskan persoalan yang banyak dikeluhkan masyarakat pada jalur domisili terjadi karena jumlah pendaftar di kawasan padat penduduk jauh melebihi daya tampung sekolah terdekat.
SPMB jalur domisili sendiri menggunakan sistem pengukuran jarak berdasarkan titik koordinat antara rumah calon siswa dan sekolah. Ketika jumlah pendaftar di satu kawasan melebihi kapasitas sekolah, maka sebagian siswa otomatis akan tersaring dan diarahkan ke sekolah lain yang masih memiliki kuota.
Ia mencontohkan kondisi di kawasan Jalan Juanda yang memiliki kepadatan penduduk jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah Palaran. Meski jumlah sekolah di kawasan padat sudah lebih banyak, tetap saja tidak seluruh calon siswa dapat diterima di sekolah terdekat.
Meski terdapat keluhan dari orang tua siswa, Disdikbud memastikan pelaksanaan SPMB tahun ini dari sisi teknis berjalan lancar. Sistem pendaftaran telah melalui berbagai simulasi dan berada di bawah pengelolaan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), sehingga tidak dapat dimanipulasi.
Selain itu, sekolah juga membuka layanan pendampingan bagi masyarakat yang mengalami kesulitan menggunakan aplikasi pendaftaran secara daring.
"Kami sudah melakukan simulasi berulang kali sebelum SPMB dibuka. Bahkan sekolah juga membantu masyarakat yang kesulitan menggunakan aplikasi. Jadi secara teknis pelaksanaannya berjalan dengan baik," pungkasnya.


