Banner ADV

Pelatihan Musik Tradisional Kulintangan Jadi Langkah Awal Lahirnya Kelompok Seni di Maratua

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Pelatihan Kulintang yang digelar di Pendopo Kantor Camat Maratua. (Foto: Disbudpar Berau)
Pelatihan Kulintang yang digelar di Pendopo Kantor Camat Maratua. (Foto: Disbudpar Berau)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Pelatihan Musik Tradisional Kulintangan Jadi Langkah Awal Lahirnya Kelompok Seni di Maratua

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Pelatihan Kulintang yang digelar di Pendopo Kantor Camat Maratua. (Foto: Disbudpar Berau)
Pelatihan Kulintang yang digelar di Pendopo Kantor Camat Maratua. (Foto: Disbudpar Berau)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Pelatihan Musik Tradisional Kulintangan Jadi Langkah Awal Lahirnya Kelompok Seni di Maratua

Pelatihan Kulintang yang digelar di Pendopo Kantor Camat Maratua. (Foto: Disbudpar Berau)

Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Upaya pelestarian seni musik tradisional di Kabupaten Berau kini diarahkan tidak hanya pada peningkatan kemampuan individu, tetapi juga mendorong lahirnya kelompok-kelompok seni baru di tingkat kampung. 

Langkah tersebut mulai diwujudkan melalui pelatihan musik kulintangan yang melibatkan generasi muda di Kecamatan Maratua.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di Pendopo Kantor Camat Maratua itu diikuti peserta dari Kampung Bohe Silian, Teluk Harapan, Teluk Alulu, dan Payung-Payung. 

Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai pelajar, anggota sanggar seni, komunitas budaya, hingga masyarakat yang memiliki minat mempelajari musik tradisional khas Berau.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Bina Nilai Budaya dan Seni Disbudpar Berau, Nurjatiah, menjelaskan pelatihan tersebut disiapkan sebagai fondasi untuk memperkuat ekosistem kesenian tradisional di wilayah pesisir. Menurutnya, regenerasi pemain kulintangan harus dibarengi dengan pembentukan wadah yang mampu menjaga keberlanjutan aktivitas seni di masing-masing kampung.

“Harapan kami bukan hanya peserta mampu memainkan kulintangan, tetapi setelah pelatihan selesai mereka bisa membentuk kelompok seni yang aktif berlatih dan tampil pada berbagai kegiatan budaya maupun pariwisata di daerah,” ujarnya.

Selama pelatihan, peserta lebih banyak mengikuti sesi praktik dibanding teori. Dengan pendampingan langsung dari praktisi seni kulintangan, mereka mempelajari teknik memainkan instrumen, pembagian peran dalam satu kelompok, hingga mengaransemen lagu daerah secara bersama-sama agar lebih siap tampil di hadapan publik.

Nurjatiah menambahkan, pemerintah daerah juga mendorong pemerintah kampung dan kecamatan untuk mengusulkan pengadaan seperangkat alat musik kulintangan. Fasilitas tersebut dinilai menjadi kebutuhan penting agar kemampuan peserta dapat terus diasah setelah program pelatihan berakhir.

“Pembinaan ini tidak berhenti pada kegiatan pelatihan saja. Kami akan melakukan pemantauan secara berkala agar kelompok seni yang terbentuk benar-benar berkembang dan menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus mendukung promosi pariwisata Berau,” katanya.

Melalui program tersebut, Disbudpar berharap kesenian kulintangan semakin dekat dengan generasi muda dan mampu menjadi identitas budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. 

Selain menjaga warisan leluhur, keberadaan kelompok seni tradisional juga diharapkan dapat menambah daya tarik berbagai agenda budaya dan destinasi wisata di Kabupaten Berau. (Adv)