Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Inovasi baru lahir dari sektor ekonomi kreatif Kabupaten Berau. Di tengah berkembangnya industri batik nusantara, perajin di Kampung Panaan menghadirkan Batik ZKS dengan teknik pewarnaan yang tidak biasa, yakni memanfaatkan pupuk urea dalam proses produksi.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Syamsiah Nawir, mengatakan penggunaan pupuk urea bukan berarti bahan tersebut menjadi pewarna utama kain.
Urea dimanfaatkan sebagai bagian dari teknik penguncian warna sehingga menghasilkan corak yang lebih tajam, cerah, dan tahan lama.
Menurutnya, inovasi tersebut telah melalui proses penelitian serta pengujian sehingga aman digunakan sebagai bahan pakaian. Bahkan, pembuat batik juga telah mengikuti pelatihan khusus mengenai teknik tersebut sebelum memproduksinya secara komersial.
“Sudah kami tanyakan langsung kepada pembuatnya. Alhamdulillah aman karena sudah melalui uji dan riset. Perajinnya juga telah mengikuti pelatihan khusus mengenai teknik pembuatan batik menggunakan pupuk urea. Jadi prosesnya memang sudah sesuai dan dipastikan aman digunakan,” ujarnya.
Syamsiah menjelaskan, Batik ZKS menjadi salah satu produk yang cukup unik karena hingga saat ini merupakan batik pertama di Berau yang menggunakan metode tersebut. Keunikan itu menjadi daya tarik tersendiri sekaligus memberikan identitas berbeda dibandingkan batik dari daerah lain.
Ia menyebut, keunggulan teknik tersebut terletak pada hasil warna yang lebih hidup dan keluar dengan maksimal. Kombinasi bahan pewarna yang digunakan mampu menghasilkan motif yang terlihat lebih eksklusif tanpa mengurangi kenyamanan saat dikenakan.
“Warna yang dihasilkan lebih menarik, lebih keluar, lebih cerah, tetapi tetap terlihat natural. Kami sendiri sudah melihat langsung hasilnya, bahkan ada staf yang sudah membeli dan memakai batiknya. Hasilnya memang bagus dan nyaman digunakan,” katanya.
Disbudpar Berau berharap inovasi tersebut dapat menjadi nilai tambah bagi pengembangan ekonomi kreatif daerah.
Selain memperkuat identitas batik khas Berau, produk tersebut juga diharapkan mampu menarik minat wisatawan untuk membawa pulang karya lokal yang memiliki cerita, keunikan, sekaligus nilai budaya dari Kampung Panaan. (Adv)



