Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan
SANGATTA – Potensi kemunculan fenomena El Nino pada pertengahan Juli 2026 mulai memunculkan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Musim kering yang diprediksi berlangsung dalam beberapa bulan ke depan berisiko menekan produksi pertanian, mengganggu pasokan bahan pokok, dan memicu kenaikan harga di pasar jika tidak diantisipasi sejak dini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi sejumlah wilayah di Indonesia akan terdampak El Nino, termasuk Kalimantan Timur (Kaltim).
Kondisi tersebut berpotensi mengurangi curah hujan sehingga memengaruhi sektor pertanian yang masih bergantung pada ketersediaan air.
Menghadapi potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutim mulai menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.
Upaya yang disiapkan antara lain memperkuat distribusi bahan pokok, menggelar operasi pasar, melakukan pemantauan harga komoditas, hingga menjalin kerja sama pemenuhan pasokan dengan daerah lain.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman mengatakan pemerintah daerah telah mengantisipasi kemungkinan dampak El Nino agar tidak berkembang menjadi persoalan ekonomi yang lebih luas.
"Fenomena ini (El Nino) akan muncul di bulan Juli ini dan beberapa bulan kemudian. Yang dikhawatirkan akan melanda Indonesia termasuk di Kutim. Untuk itu, kita juga harus bersiap," katanya.
Selain menjaga distribusi, Pemkab Kutim juga mengandalkan penguatan produksi pangan berbasis masyarakat melalui konsep integrated farming atau pertanian terpadu.
Program tersebut mengombinasikan kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu sistem sehingga kebutuhan pangan rumah tangga diharapkan dapat dipenuhi secara mandiri.
"Kita sebenarnya bersyukur sudah bergerak dengan apa yang saya sering sebut integrated farming. Ada komunitas dan ada rumah tangga," ujar Ardiansyah.
Menurutnya, pendekatan tersebut telah dikembangkan melalui kelompok masyarakat dan Dasa Wisma PKK dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran serta memelihara ternak skala kecil.
Selain mendukung kebutuhan konsumsi keluarga, pola tersebut juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah.
Pemkab Kutim juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi inflasi pada Juli hingga Agustus 2026.
Pemantauan harga kebutuhan pokok akan dilakukan secara berkala untuk memastikan gejolak harga tetap terkendali apabila dampak El Nino mulai dirasakan di daerah.
Ardiansyah menilai penguatan produksi pangan lokal perlu diiringi dengan distribusi yang lancar dan keterlibatan masyarakat agar risiko gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem dapat diminimalkan.


