Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - Harga beras di Pasar Klandasan, Balikpapan, terpantau masih stabil dalam beberapa waktu terakhir.
Pedagang mengaku belum ada kenaikan harga baru, meski sebelumnya harga sempat mengalami penyesuaian sejak awal tahun hingga sekitar Mei 2026.
Pedagang beras di Kios Pasar Klandasan, Jimi mengatakan, harga beras premium saat ini masih bertahan di kisaran Rp18.000 hingga Rp19.000 per kilogram. Sementara beras asal Sulawesi dijual sekitar Rp17.000 per kilogram.
"Beras Mangga jualnya ada yang Rp18.000 sampai Rp19.000 per kilo. Kalau beras Sulawesi Rp17.000 per kilo," ujar Bu Jimi, Rabu (8/7/2026).
Untuk beras program Bulog, Jimi menyebut harga jual kemasan 5 kilogram sekitar Rp65.000 atau setara Rp13.000 per kilogram. Harga tersebut naik dari harga pengambilan di agen yang sekitar Rp60.000 per kemasan.
Menurutnya, kondisi harga saat ini relatif normal dan belum mengalami perubahan dalam beberapa bulan terakhir.
"Enggak ada sih sekarang, masih normal. Belum ada kenaikan harga lagi," katanya.
Ia mengungkapkan kenaikan harga sempat terjadi pada awal tahun. Namun setelah itu harga cenderung bertahan hingga sekarang.
"Kalau naik memang sempat awal tahun. Sekarang sudah stabil lagi," tambahnya.
Jimi juga menilai pola pembelian masyarakat tidak banyak berubah saat harga naik. Sebagian konsumen membeli beras eceran, sementara lainnya memilih kemasan 5 kilogram sesuai kemampuan ekonomi masing-masing.
"Sama saja, tergantung keuangan pembelinya," ucapnya.
Hal senada disampaikan pemilik Toko Hari Jaya, Marsudi. Ia menyebut kenaikan harga beras yang terjadi beberapa waktu lalu berasal dari distributor dan mulai dirasakan sejak Mei 2026.
"Sudah dua bulan. Bulan Mei sudah naik," katanya.
Namun, menurut Marsudi, harga saat ini tidak lagi mengalami kenaikan.
"Kalau sekarang sih sudah enggak naik-naik lagi, ya begitu-gitu saja," ujarnya.
Ia menilai yang memengaruhi harga di tingkat pedagang bukan semata harga beras, melainkan biaya distribusi yang ikut meningkat.
"Sebenarnya bukan beras yang naik. Ongkosnya yang naik. Satu goni ongkosnya naik sekitar Rp8.000. Jadi sama saja akhirnya harga beras ikut terasa naik," jelasnya.
Marsudi menambahkan pedagang hanya menerima harga dari distributor sehingga tidak mengetahui secara rinci penyebab perubahan harga.
"Kami penjual enggak tahu apa-apa. Pedomannya dari distributor. Kalau mau tahu penyebabnya ya tanya ke distributor," pungkasnya.


