Verifikasi Geopark Nasional Soroti Komitmen Masyarakat Jaga Karst Sangkulirang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Salah satu wisata alam di Kutai Timur. (Foto: Dok Prokopim Kutim)
Salah satu wisata alam di Kutai Timur. (Foto: Dok Prokopim Kutim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Verifikasi Geopark Nasional Soroti Komitmen Masyarakat Jaga Karst Sangkulirang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Salah satu wisata alam di Kutai Timur. (Foto: Dok Prokopim Kutim)
Salah satu wisata alam di Kutai Timur. (Foto: Dok Prokopim Kutim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Verifikasi Geopark Nasional Soroti Komitmen Masyarakat Jaga Karst Sangkulirang

Salah satu wisata alam di Kutai Timur. (Foto: Dok Prokopim Kutim)

Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin 

SANGATTA – Proses verifikasi kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat menuju Geopark Nasional tidak hanya menitikberatkan pada kekayaan geologi, tetapi juga komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan tersebut.

Aspek tersebut menjadi salah satu perhatian utama tim verifikasi saat meninjau Air Terjun Tangga Bidadari di Desa Selangkau, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Penilaian lapangan dilakukan Tim Verifikasi Geopark Nasional yang dipimpin Prof Mega Fatimah Rosana didampingi Aries Kusworo dan Yadi Muliadi. 

Tim yang terdiri dari ahli geologi, arkeologi, dan geopark menilai berbagai aspek, mulai dari nilai ilmiah situs, tata kelola kawasan, hingga keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan destinasi.

Menurut Prof Mega Fatimah Rosana, kawasan Air Terjun Tangga Bidadari memiliki nilai geologi yang tinggi dengan karakter batuan yang khas serta keberadaan mata air yang menjadi daya tarik utama. "Secara geologi, kawasan ini sangat menarik dengan formasi batuan yang unik serta keberadaan mata air yang menjadi daya tarik utama," ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pengakuan sebagai geopark tidak ditentukan semata oleh keunikan bentang alam. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan mengelola kawasan secara berkelanjutan menjadi faktor yang sama pentingnya.

Di Desa Selangkau, pengelolaan objek wisata Air Terjun Tangga Bidadari yang baru berjalan sekitar enam bulan dinilai telah menunjukkan adanya kolaborasi antara pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dan masyarakat dalam merawat kawasan.

"Paling menarik dalam konsep geopark di sini adalah keterlibatan masyarakat yang sangat mandiri. Ada kolaborasi yang solid dari pemerintah desa, kecamatan, hingga warga untuk merawat alamnya," kata Mega.

Ia mengatakan konsep geopark dibangun di atas tiga pilar utama, yakni konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat, sehingga keberhasilan sebuah geopark bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pemanfaatan kawasan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Mega juga mengingatkan bahwa apabila Karst Sangkulirang-Mangkalihat memperoleh status Geopark Nasional, tantangan berikutnya adalah mempertahankan komitmen tersebut secara berkelanjutan.

"Ketika nanti menyandang status Geopark Nasional, komitmen untuk menjaga alam harus terus dipegang teguh. Dengan begitu, manfaat ekonominya akan dirasakan langsung oleh masyarakat," tegasnya.

Verifikasi yang dilakukan tim dari Kementerian ESDM bersama para ahli merupakan salah satu tahapan penilaian untuk menentukan kelayakan kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat sebagai Geopark Nasional. 

Selain menilai aspek geologi, tim juga mengevaluasi apakah pengelolaan kawasan telah memenuhi prinsip pembangunan berkelanjutan melalui pelestarian lingkungan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Status Geopark Nasional diharapkan dapat memperkuat fungsi kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat edukasi kebumian, laboratorium alam, serta ruang pemberdayaan masyarakat berbasis pelestarian warisan geologi dan keanekaragaman hayati.