Di Tengah Belasan Merek Beras, Toko Milik Pedagang Tionghoa di Balikpapan Tak Pernah Jual Beras Bulog

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Pemilik Toko Hari Jaya, Marsudi melihat tumpukan beras di tokonya, Rabu (8/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Pemilik Toko Hari Jaya, Marsudi melihat tumpukan beras di tokonya, Rabu (8/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Di Tengah Belasan Merek Beras, Toko Milik Pedagang Tionghoa di Balikpapan Tak Pernah Jual Beras Bulog

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Pemilik Toko Hari Jaya, Marsudi melihat tumpukan beras di tokonya, Rabu (8/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Pemilik Toko Hari Jaya, Marsudi melihat tumpukan beras di tokonya, Rabu (8/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Di Tengah Belasan Merek Beras, Toko Milik Pedagang Tionghoa di Balikpapan Tak Pernah Jual Beras Bulog

Pemilik Toko Hari Jaya, Marsudi melihat tumpukan beras di tokonya, Rabu (8/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin

BALIKPAPAN - Tumpukan karung beras berjejer rapi di depan Toko Hari Jaya, Pasar Klandasan, Balikpapan. Ada sekitar 12 merek beras yang dipajang menghadap Jalan Jenderal Sudirman untuk menarik perhatian pembeli yang melintas.

Namun dari belasan merek itu, satu nama yang biasa dijumpai di banyak toko justru tidak terlihat, yakni beras Bulog.

Pemilik toko, Marsudi mengaku memang tidak pernah menjual beras Bulog.

Saat ditemui, ia baru saja sibuk mengangkat kardus air mineral bersama anaknya. Dengan tubuh berkeringat dan tanpa banyak basa-basi, ia tetap melayani setiap pertanyaan mengenai harga beras.

Menurutnya, harga beras di tokonya kini sudah tidak mengalami kenaikan lagi setelah sempat naik sejak Mei lalu. "Kalau sekarang sih sudah enggak naik-naik lagi, ya begitu-gitu saja," ujarnya.

Ia menilai kenaikan yang dirasakan pedagang lebih banyak dipicu meningkatnya biaya distribusi dibanding harga beras itu sendiri.

"Sebenarnya bukan beras yang naik. Ongkosnya yang naik. Satu goni ongkosnya naik sekitar Rp8.000. Jadi sama saja akhirnya harga beras ikut terasa naik," katanya.

Percakapan kemudian beralih ketika ditanya mengenai beras Bulog. Marsudi langsung menjawab bahwa sejak membuka usaha, ia belum pernah menjual beras program pemerintah tersebut.

Menurutnya, keinginan untuk menjual beras Bulog sebenarnya pernah ada. Namun, ia mengaku tidak pernah mendapat kesempatan menjadi penyalur.

"Bukan kita enggak pengin jual dari awal, tapi enggak dikasih. Alasannya sebentar ini, sebentar itu. Ya sudah, mending enggak usah," ucapnya.

Marsudi kemudian menyampaikan pandangannya mengenai alasan dirinya tidak memperoleh akses menjual beras Bulog. Ia mengklaim pedagang keturunan Tionghoa tidak diberi kesempatan menjadi penyalur.

"Kalau jual beras Bulog itu orang pribumi baru pas. Kalau kita Chinese itu, semua Chinese enggak ada yang boleh jual," ungkapnya.

Pernyataan tersebut merupakan pengalaman pribadi Marsudi dan belum dapat diverifikasi kepada pihak Perum Bulog maupun instansi terkait mengenai mekanisme penunjukan mitra penyalur beras Bulog.

Di luar persoalan itu, Marsudi menegaskan pedagang eceran hanya menerima harga dari distributor sehingga tidak mengetahui secara pasti penyebab perubahan harga beras di pasar.

"Kami penjual enggak tahu apa-apa. Pedomannya dari distributor. Kalau mau tahu penyebabnya, tanya ke distributor," ujarnya.

Ia berharap masyarakat memahami bahwa pedagang di tingkat eceran hanya berada di ujung rantai distribusi dan tidak memiliki kewenangan menentukan harga maupun pasokan beras yang masuk ke toko.