DPRD Samarinda Soroti Efektivitas Insinerator Pengolah Sampah, Tiga Jam Waktu Terbuang Hanya untuk Menyalakan dan Mematikan Mesin

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Insenerator di Samarinda mulai beroperasi dengan durasi delapan jam setiap hari. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Insenerator di Samarinda mulai beroperasi dengan durasi delapan jam setiap hari. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DPRD Samarinda Soroti Efektivitas Insinerator Pengolah Sampah, Tiga Jam Waktu Terbuang Hanya untuk Menyalakan dan Mematikan Mesin

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Insenerator di Samarinda mulai beroperasi dengan durasi delapan jam setiap hari. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Insenerator di Samarinda mulai beroperasi dengan durasi delapan jam setiap hari. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DPRD Samarinda Soroti Efektivitas Insinerator Pengolah Sampah, Tiga Jam Waktu Terbuang Hanya untuk Menyalakan dan Mematikan Mesin

Insenerator di Samarinda mulai beroperasi dengan durasi delapan jam setiap hari. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA – Operasional insinerator pengolah sampah di Kota Samarinda dinilai masih belum berjalan optimal. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya waktu yang terpakai untuk proses menyalakan hingga mematikan mesin, sehingga mengurangi durasi efektif pembakaran sampah setiap harinya.

Hal tersebut menjadi catatan Komisi III DPRD Kota Samarinda saat menggelar rapat bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengatakan persoalan efektivitas insinerator menjadi salah satu fokus pembahasan, terlebih fasilitas tersebut telah resmi diluncurkan oleh Wali Kota beberapa waktu lalu. 

"Kami melihat penggunaan insinerator saat ini memang belum efektif," kata Deni, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, proses awal pengoperasian insinerator membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menaikkan suhu pembakaran hingga mencapai 900–1.000 derajat Celsius, yang menjadi syarat mesin dapat beroperasi secara optimal. Sementara saat proses penghentian operasional, mesin kembali memerlukan waktu sekitar dua jam.

"Artinya ada sekitar tiga jam waktu yang terbuang dari total delapan jam operasional setiap hari. Dengan kondisi itu tentu target pembakaran sampah sekitar delapan sampai sepuluh ton per hari akan sulit tercapai," jelasnya.

Selain proses pembakaran, DPRD juga menilai tahapan pemilahan sampah masih menjadi kendala. Saat ini, pemilahan sampah dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu cukup lama sebelum sampah dapat dimasukkan ke dalam insinerator.

Dari informasi yang didapat dari DLH, Deni menyebut satu truk sampah dengan kapasitas sekitar tiga sampai empat ton bisa membutuhkan waktu hingga lima hari untuk dipilah. "Ini sangat lama karena memang belum didukung alat pemilah yang memadai," ungkapnya.

Untuk itu, Komisi III mendorong pemerintah kota melengkapi sistem pendukung agar operasional insinerator lebih efisien. Salah satunya dengan menyediakan alat pemilah sampah serta membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di lokasi insinerator.

Ia ingin memastikan fasilitas yang sudah dimiliki pemerintah kota dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mengurangi timbulan sampah di Samarinda.

"Karena itu kami meminta DLH menyusun subsistem yang dapat menunjang agar insinerator ini benar-benar berfungsi optimal," pungkasnya.