Gen Z Tinggalkan Berita Teks, Media Dituntut Beralih ke Konten Visual

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Praktisi Editor Video, Fachmi Rachman membawakan materi lanskap jurnalisme di era AI dan digital du Balikpapan, Kamis (9/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Praktisi Editor Video, Fachmi Rachman membawakan materi lanskap jurnalisme di era AI dan digital du Balikpapan, Kamis (9/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Gen Z Tinggalkan Berita Teks, Media Dituntut Beralih ke Konten Visual

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Praktisi Editor Video, Fachmi Rachman membawakan materi lanskap jurnalisme di era AI dan digital du Balikpapan, Kamis (9/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Praktisi Editor Video, Fachmi Rachman membawakan materi lanskap jurnalisme di era AI dan digital du Balikpapan, Kamis (9/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Gen Z Tinggalkan Berita Teks, Media Dituntut Beralih ke Konten Visual

Praktisi Editor Video, Fachmi Rachman membawakan materi lanskap jurnalisme di era AI dan digital du Balikpapan, Kamis (9/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin

BALIKPAPAN - Perubahan perilaku konsumsi informasi di kalangan Generasi Z hingga Generasi Beta menjadi tantangan baru bagi industri media. 

Kelompok usia tersebut dinilai semakin jarang membaca berita berbentuk teks dan lebih memilih menikmati informasi melalui konten visual, terutama video pendek.

Praktisi Editor Video, Fachmi Rachman mengatakan perubahan tersebut harus direspons media dengan menyesuaikan cara menyajikan informasi tanpa mengorbankan akurasi dan prinsip jurnalistik.

"Realitanya sekarang Gen Z sampai Generasi Beta sudah semakin sulit tertarik membaca berita panjang. Mereka lebih menyukai visual, terutama video pendek," ucap Ami sapaannya, saat menyampaikan materi Lanskap Jurnalisme di Era AI dan Digital di Balikpapan, Kamis (9/7/2026).

Menurutnya, tren itu membuat media tidak cukup hanya mengandalkan portal berita berbasis teks. Jurnalis atau pewarta dituntut mampu memproduksi konten multimedia yang dapat disebarkan di berbagai platform digital.

Meski demikian, mantan fotografer jurnalistik ini mengingatkan penyajian visual tetap harus mengedepankan proses verifikasi. Video jurnalistik dinilai menjadi salah satu cara menunjukkan fakta di lapangan sekaligus membedakan produk media dengan konten yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI). Hal inilah yang membuatnya 

"Video memperlihatkan kenyataan yang terjadi. Itu menjadi bukti fakta yang tidak bisa sepenuhnya digantikan AI," katanya.

Ia menjelaskan, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam proses jurnalistik, seperti menyusun kerangka berita, membuat transkrip atau merangkum informasi. Tapi hasil yang diberikan AI tetap harus diperiksa kembali agar sesuai dengan konteks dan fakta di lapangan.

"AI hanya alat bantu. Sentuhan kreativitas manusia, hasil observasi, dan verifikasi tetap menjadi hal yang paling penting dalam produk jurnalistik," tegasnya.

Fachmi juga mengingatkan jurnalis agar tidak terlalu bergantung pada AI karena dapat membuat gaya penulisan menjadi seragam. Sebav, detail yang diperoleh langsung dari lokasi kejadian menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki mesin.

Selain kemampuan menulis, ia menilai jurnalis saat ini juga dituntut menguasai produksi video, siaran langsung hingga distribusi konten di berbagai platform digital agar informasi dapat menjangkau lebih banyak audiens.

"Ke depan, jurnalis bukan hanya menulis berita, tetapi juga harus mampu menghasilkan konten visual yang cepat, akurat, dan tetap menjaga kualitas jurnalistik," pungkasnya.