Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin
SANGATTA – Upaya meningkatkan konektivitas wilayah pedalaman di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali mengemuka.
Pemerintah Kabupaten Kutim menggandeng perusahaan perkebunan dan pertambangan untuk membiayai rehabilitasi Bandara Uyang Lahai di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng melalui skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau corporate social responsibility (CSR).
Kolaborasi tersebut ditempuh karena bandara dinilai memiliki peran strategis sebagai akses transportasi bagi masyarakat di Kecamatan Kongbeng, Telen dan Muara Wahau.
Selain mendukung mobilitas warga, bandara juga menjadi jalur distribusi logistik serta menunjang layanan kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi di kawasan pedalaman.
Berdasarkan perhitungan awal tim teknis, kebutuhan anggaran rehabilitasi diperkirakan mencapai sekitar Rp44,8 miliar.
Pembiayaan akan dibagi secara proporsional kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar bandara.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kutim, Masrianto Suriansyah mengatakan kesepakatan pembagian pembiayaan telah dicapai dalam rapat bersama pemerintah daerah dan pihak perusahaan.
"Alhamdulillah, hasil rapat hari ini menghasilkan pembagian secara proporsional terhadap pembiayaan rehabilitasi Bandara Uyang Lahai. Yang menjadi prioritas adalah peningkatan dan optimalisasi runway," ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Prioritas pekerjaan diarahkan pada peningkatan kualitas landasan pacu sepanjang 800 meter dengan lebar 30 meter.
Apabila seluruh komitmen pendanaan dari perusahaan telah diverifikasi, pelaksanaan pekerjaan fisik diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga bulan.
Untuk menentukan besaran kontribusi masing-masing perusahaan, Dinas Perhubungan akan berkoordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Perkebunan.
Pemetaan tersebut dilakukan berdasarkan skala usaha setiap perusahaan agar pembagian beban pembiayaan dinilai proporsional.
Di sisi lain, rencana rehabilitasi bandara juga menjadi harapan masyarakat setempat yang selama ini bergantung pada akses transportasi udara untuk menjangkau pusat pelayanan.
Kepala Desa Miau Baru, Luis Langet berharap kesepakatan yang telah dibangun antara pemerintah daerah dan perusahaan segera diwujudkan dalam bentuk pekerjaan di lapangan.
"Harapan kami, rencana ini bisa segera terwujud sehingga masyarakat Miau Baru dan wilayah sekitar semakin mudah mendapatkan akses transportasi, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan peluang usaha," katanya.
Meski demikian, keberhasilan rehabilitasi Bandara Uyang Lahai tidak hanya bergantung pada komitmen pendanaan.
Konsistensi pelaksanaan proyek hingga pengelolaan bandara setelah rehabilitasi juga menjadi faktor penting agar investasi tersebut benar-benar mampu meningkatkan konektivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan pedalaman Kutim.


