Inflasi Nunukan Naik Jadi 2,08 Persen pada Juni 2026, Harga Pangan Masih Jadi Pemicu Utama

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala BPS Nunukan, Iskandar Ahmaddien. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)
Kepala BPS Nunukan, Iskandar Ahmaddien. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Inflasi Nunukan Naik Jadi 2,08 Persen pada Juni 2026, Harga Pangan Masih Jadi Pemicu Utama

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala BPS Nunukan, Iskandar Ahmaddien. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)
Kepala BPS Nunukan, Iskandar Ahmaddien. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Inflasi Nunukan Naik Jadi 2,08 Persen pada Juni 2026, Harga Pangan Masih Jadi Pemicu Utama

Kepala BPS Nunukan, Iskandar Ahmaddien. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan

NUNUKAN – Laju inflasi di Kabupaten Nunukan kembali mengalami kenaikan pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 2,08 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,51. Kenaikan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di wilayah perbatasan tersebut.
‎
Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Iskandar, menjelaskan bahwa kenaikan harga terjadi pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Namun, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi paling besar terhadap pembentukan inflasi selama Juni 2026.
‎
"Pada Juni 2026 terjadi inflasi year-on-year sebesar 2,08 persen dengan Indeks Harga Konsumen mencapai 111,51. Inflasi ini didorong oleh kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil terbesar," ujarnya.
‎
Data BPS menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi sebesar 0,66 persen. Setelah itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran memberikan andil 0,45 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,42 persen.
‎
Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil 0,31 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga menyumbang 0,09 persen, transportasi 0,08 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,04 persen, pakaian dan alas kaki 0,02 persen, serta kesehatan 0,01 persen.
‎
Di sisi lain, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya serta kelompok pendidikan tidak memberikan kontribusi terhadap inflasi pada Juni 2026.

Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,37 persen. Sementara inflasi kumulatif sejak Januari hingga Juni 2026 (year-to-date/y-to-d) mencapai 1,98 persen.

Menurut Iskandar, perkembangan inflasi Kabupaten Nunukan sepanjang satu tahun terakhir menunjukkan dinamika yang cukup fluktuatif. Setelah berada pada level 1,70 persen pada Juni 2025, inflasi sempat meningkat menjadi 2,23 persen pada Juli, turun menjadi 1,76 persen pada Agustus, kemudian kembali naik menjadi 2,07 persen pada September.

Inflasi kembali melandai menjadi 1,84 persen pada Oktober dan 1,68 persen pada November 2025, sebelum meningkat menjadi 1,94 persen pada Desember. Memasuki 2026, inflasi berada di angka 1,87 persen pada Januari, kemudian melonjak menjadi 3,67 persen pada Februari dan mencapai titik tertinggi pada Maret sebesar 4,22 persen.

Setelah lonjakan tersebut, tekanan inflasi mulai mereda. Pada April 2026 inflasi turun menjadi 1,96 persen, kemudian naik tipis menjadi 2,05 persen pada Mei dan kembali meningkat menjadi 2,08 persen pada Juni.

Meski kembali mengalami kenaikan, tingkat inflasi Kabupaten Nunukan masih lebih rendah dibandingkan dua daerah lain di Kalimantan Utara. Pada Juni 2026, inflasi tahunan tertinggi tercatat di Tanjung Selor sebesar 4,60 persen, disusul Kota Tarakan sebesar 3,62 persen, sedangkan Kabupaten Nunukan berada pada angka 2,08 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan kenaikan harga di Kabupaten Nunukan masih relatif lebih terkendali dibandingkan sejumlah daerah lain di Kalimantan Utara.

"Komoditas pangan tetap menjadi sektor yang paling dominan memengaruhi laju inflasi sehingga perlu mendapat perhatian dalam upaya menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat," pungkasnya.