Para Ayah Luangkan Waktu Dampingi Sang Buah Hati Sekolah di Hari Pertama

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Potret Deni saat mengantar buah hatinya ke sekolah SDN 4 Tenggarong (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)
Potret Deni saat mengantar buah hatinya ke sekolah SDN 4 Tenggarong (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Para Ayah Luangkan Waktu Dampingi Sang Buah Hati Sekolah di Hari Pertama

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Potret Deni saat mengantar buah hatinya ke sekolah SDN 4 Tenggarong (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)
Potret Deni saat mengantar buah hatinya ke sekolah SDN 4 Tenggarong (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Para Ayah Luangkan Waktu Dampingi Sang Buah Hati Sekolah di Hari Pertama

Potret Deni saat mengantar buah hatinya ke sekolah SDN 4 Tenggarong (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin

TENGGARONG - Suasana hangat mewarnai hari pertama pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN 4 Tenggarong, Kelurahan Mangkurawang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Senin (13/7/2026).

Sejumlah orang tua tampak mengantar putra-putri mereka memasuki lingkungan sekolah untuk pertama kalinya, termasuk para ayah  sengaja meluangkan waktu demi mendampingi buah hati mereka, salah satunya Deni.

Meski mengaku belum begitu mengenal Program Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS), ia tetap memilih hadir mengantar anaknya sebagai bentuk perhatian dan dukungan pada momen penting tersebut.

Menurut Deni, menyaksikan langsung anak memulai perjalanan pendidikannya menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi dirinya sebagai seorang ayah.

“Rasanya senang bisa mengantarkan anak ke sekolah di hari pertamanya masuk. Ini menjadi momen yang sangat berharga bagi saya sebagai orang tua,” ujarnya.

Kesempatan itu bisa dimanfaatkan karena memperoleh dispensasi dari tempatnya bekerja.

Deni baru diwajibkan masuk kerja pukul 10.00 WITA, sehingga memiliki waktu untuk mendampingi anak mengikuti kegiatan awal di sekolah.

“Saya mendapat dispensasi dari tempat kerja sampai pukul 10.00 WITA,” katanya.

Hal serupa juga dirasakan Hendra, ayah dari salah seorang peserta didik baru di SDN 4 Tenggarong.

Baginya, kehadiran orang tua, khususnya ayah pada hari pertama sekolah menjadi bentuk dukungan moral yang penting saat anak mulai beradaptasi dengan lingkungan, guru dan teman-teman barunya.

Ia menilai kesempatan seperti itu tidak datang setiap hari sehingga patut dimanfaatkan sebaik mungkin.

“Sebagai orang tua, mengantarkan anak itu merupakan waktu-waktu yang jarang didapatkan. Jadi harus kita sempatkan sebagai bentuk perhatian, kepedulian serta dukungan terhadap anak,” ungkapnya.

Meski demikian, berdasarkan pantauan di lokasi, jumlah ibu yang mengantar anak masih lebih banyak dibandingkan ayah.

Fitri, salah seorang wali murid, mengaku harus mendampingi anak seorang diri karena suaminya sedang bekerja di luar daerah.

Ia mengaku sebenarnya berharap sang suami dapat ikut menyaksikan hari pertama sekolah putra mereka.

“Kebetulan suami saya sedang bekerja di luar daerah, sehingga saya yang mengantar anak ke sekolah di hari pertamanya,” tuturnya.

Sementara Kepala SDN 4 Tenggarong, Mardiana menyampaikan apresiasinya terhadap Program GAMAS yang mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak sejak hari pertama sekolah.

Menurutnya, kehadiran ayah dapat memberikan rasa aman, dukungan emosional, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri anak saat memasuki lingkungan belajar yang baru.

Namun, ia memahami tidak semua orang tua dapat mengikuti program tersebut. Faktor pekerjaan maupun tugas di luar daerah menjadi alasan yang kerap membuat ayah tidak bisa hadir mendampingi anak.

“Kami dari pihak sekolah sangat berharap peran orang tua, khususnya ayah untuk mengantar anak ke sekolah. Tapi kalau keadaannya tidak memungkinkan, kita tidak bisa memaksakan juga,” jelasnya.

Mardiana menegaskan seluruh siswa akan mendapatkan perhatian yang sama dari pihak sekolah.

Menurutnya, sekitar 430 peserta didik di SDN 4 Tenggarong merupakan tanggung jawab bersama para guru sehingga tidak ada perlakuan berbeda terhadap siapa pun.

“Kami beranggapan semua anak, mulai dari kelas satu hingga enam merupakan anak kami semua. Jadi tidak ada yang disisihkan atau dibeda-bedakan,” tegasnya.