Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Perjalanan usaha yang dirintis akhirnya mengantarkan brand tenun khas Berau, M@M@Be memiliki galeri sendiri di pusat Kota Tanjung Redeb, Kabupaten Berau.
Kehadiran galeri tersebut menjadi tonggak baru bagi pengembangan produk tenun lokal sekaligus membuka peluang promosi yang lebih luas kepada masyarakat maupun wisatawan.
Owner M@M@Be, Sonya Da Silva, mengaku pencapaian itu merupakan impian yang akhirnya terwujud.
Ia mengatakan pada awalnya hanya berencana mencari lokasi usaha di sekitar Kecamatan Teluk Bayur agar lebih dekat dengan tempat tinggalnya.
Namun, kesempatan justru datang hingga akhirnya berhasil memperoleh lokasi yang strategis di jantung Kota Tanjung Redeb.
“Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Awalnya saya hanya ingin mencari tempat di sekitar Teluk Bayur karena dekat dengan kampung kami di Tumbit Melayu, tetapi akhirnya diberi kemudahan hingga bisa mendapatkan tempat di pusat kota,” ujarnya.
Keberhasilan membuka galeri tersebut menjadi pencapaian baru setelah produk M@M@Be Tenun Berau dikenal di berbagai ajang pameran.
Ia mengungkapkan, karya tenun yang dihasilkannya bersama para perajin lainnya telah beberapa kali ditampilkan dalam pameran dan kegiatan promosi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Keunikan tenun M@M@Be terletak pada perpaduan motif khas Berau dengan teknik menenun yang ia pelajari dari daerah asalnya di Flores.
Kombinasi tersebut menghasilkan karakter tenun yang berbeda dan menjadi daya tarik tersendiri di mata pecinta kain tradisional.
Sementara Sekretaris Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Hasnawati,mengatakan perkembangan UMKM di Kabupaten Berau terus menunjukkan tren positif.
Berdasarkan data pemerintah daerah, jumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta Industri Kecil Menengah (IKM) kini telah mencapai sekitar 20 ribu unit yang tersebar di berbagai wilayah.
Menurut Hasnawati, peningkatan jumlah pelaku usaha tersebut menjadi gambaran tingginya minat masyarakat untuk berwirausaha.
Namun, ia menilai pertumbuhan itu harus dibarengi dengan peningkatan kualitas usaha agar UMKM tidak hanya bertambah dari sisi jumlah, tetapi juga mampu berkembang dan memiliki daya saing yang lebih kuat.
Ia menjelaskan, UMKM yang naik kelas dapat dilihat dari sejumlah indikator, seperti meningkatnya pendapatan usaha, bertambahnya tenaga kerja yang diserap hingga semakin luasnya jangkauan pemasaran.
Ketiga aspek tersebut, kata dia, menjadi ukuran penting agar pelaku usaha mampu bertahan sekaligus bersaing di tengah perkembangan pasar yang semakin kompetitif.
Hasnawati juga memberikan apresiasi terhadap perkembangan M@M@Be Tenun Berau yang dinilai berhasil menjadi contoh UMKM lokal yang terus bertumbuh hingga mampu memiliki galeri sendiri.
Menurutnya, kualitas produk menjadi kunci utama dalam menarik minat konsumen. “Kalau kita suka dengan produknya, tentu kita akan ikut membantu mempromosikannya. Begitu juga wisatawan yang datang, ketika mereka tertarik pasti akan mengenalkan produk itu kepada orang lain. Saya sendiri juga selalu memakai sekaligus mempromosikan tenun khas Berau,” katanya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau akan terus memberikan pendampingan kepada para pelaku UMKM melalui berbagai program pembinaan, peningkatan kapasitas, hingga promosi produk lokal.
Dengan dukungan tersebut, diharapkan semakin banyak UMKM Berau yang mampu naik kelas, memperluas pasar, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. (Adv)



