Hari Pertama Sekolah Tanpa Seragam, Kisah Pilu Ibu Tunggal Korban Kebakaran Pulau Panjang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kebakaran di Gang Pulau Panjang. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Kebakaran di Gang Pulau Panjang. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Hari Pertama Sekolah Tanpa Seragam, Kisah Pilu Ibu Tunggal Korban Kebakaran Pulau Panjang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kebakaran di Gang Pulau Panjang. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Kebakaran di Gang Pulau Panjang. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Hari Pertama Sekolah Tanpa Seragam, Kisah Pilu Ibu Tunggal Korban Kebakaran Pulau Panjang

Kebakaran di Gang Pulau Panjang. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Musibah kebakaran yang menghanguskan empat bangunan di Gang Pulau Panjang, Kelurahan Tanjung Redeb pada Minggu (12/7/2026) lalu, tak hanya menyisakan puing-puing bangunan. 

Di balik peristiwa itu, tersimpan perjuangan seorang ibu tunggal yang kini harus memulai kembali hidupnya dari nol bersama dua anaknya.

Yuli, perempuan asal Pontianak yang telah lama menetap di Berau menjadi salah satu korban dalam peristiwa tersebut.

Rumah kontrakan yang selama ini menjadi tempat tinggal sekaligus menyimpan seluruh harapan keluarganya, luluh lantak dilalap api. Tak satu pun barang berharga berhasil diselamatkan.

Saat ditemui sehari setelah kejadian, Yuli hanya mampu memandangi sisa-sisa bangunan yang telah berubah menjadi arang.

Lembaran seng yang hangus, kayu yang menghitam hingga perabot rumah tangga yang tak lagi dapat digunakan menjadi saksi bagaimana kobaran api menghapus hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun.

Di tengah kesedihannya kehilangan tempat tinggal, hal yang paling membuat hatinya hancur adalah melihat kedua anaknya harus menghadapi hari pertama sekolah tanpa perlengkapan belajar. 

Seragam, sepatu, tas, hingga buku-buku mereka ikut hangus terbakar sehingga keduanya terpaksa berangkat menggunakan pakaian seadanya setelah pihak sekolah memberikan pengertian atas musibah yang dialami.

Yuli menceritakan saat kebakaran terjadi dirinya sedang berada di TK Bhayangkari tempat ia mengajar. Siang itu, ia tengah mempersiapkan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) ketika telepon dari anaknya masuk. 

Berbeda dari biasanya, kali ini ia langsung mengangkat panggilan tersebut. Tak disangka, kabar yang diterimanya justru membuat dunianya seakan runtuh.

Setibanya di lokasi, akses menuju rumah sudah dipenuhi warga yang berupaya memadamkan api. Kepanikan menguasainya. Yang pertama kali terlintas di benaknya bukanlah harta benda, melainkan keselamatan kedua anaknya. 

Setelah mengetahui keduanya berhasil menyelamatkan diri, Yuli sempat mencoba masuk ke rumah untuk mengambil perlengkapan sekolah anak-anaknya. Namun, upayanya tak banyak membuahkan hasil karena api telah lebih dulu menghanguskan hampir seluruh isi rumah.

Tak hanya kehilangan tempat tinggal, Yuli juga kehilangan sumber penghasilannya. Selain mengajar di taman kanak-kanak, ia selama ini menjalankan usaha jasa pemasangan nail art pada sore hingga malam hari. Seluruh peralatan usahanya ikut musnah dalam kebakaran, membuatnya kini harus memikirkan kembali bagaimana memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Saat ini, Yuli bersama kedua anaknya tinggal sementara di rumah salah seorang wali muridnya di kawasan Jalan Karomah, Tanjung Redeb. Meski diterpa cobaan berat, ia memilih tetap bertahan di Berau. Baginya, kota ini telah menjadi tempat kedua anaknya menempuh pendidikan sekaligus tempat ia membangun kehidupan dan usahanya.

“Saya harus tetap kuat demi anak-anak. Yang terpenting mereka masih selamat. Soal rumah dan semua yang hilang, mudah-mudahan bisa kami bangun kembali sedikit demi sedikit,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.