Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin
NUNUKAN – Upaya Pemerintah Desa Liuk Bulu, Kecamatan Krayan Barat dalam mendorong kemandirian ekonomi desa mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Taka Liuk Bulu, usaha peternakan ayam petelur yang dikembangkan menggunakan dukungan Dana Desa (DD) kini telah memasuki masa produksi dan mulai memasok kebutuhan telur bagi masyarakat setempat.
Program peternakan ayam petelur ini merupakan implementasi kebijakan pemerintah yang mendorong setiap desa mengembangkan potensi ekonomi melalui pembentukan dan penguatan BUMDes.
Dukungan Dana Desa menjadi modal awal bagi Pemerintah Desa Liuk Bulu untuk membangun usaha produktif yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Pada tahap awal, BUMDes Taka Liuk Bulu mengembangkan peternakan dengan menebar 300 ekor bibit ayam petelur. Tapi dalam proses pemeliharaan, usaha tersebut menghadapi sejumlah tantangan.
Sebanyak 80 ekor ayam mengalami kematian akibat berbagai faktor teknis, sehingga saat ini populasi yang tersisa sebanyak 220 ekor dan terus dipelihara secara intensif.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat pengelola. Empat orang petugas BUMDes secara bergantian bertanggung jawab melakukan perawatan kandang, pemberian pakan, menjaga kesehatan ternak, hingga proses pengumpulan telur setiap hari.
Hasilnya mulai terlihat. Sebagian ayam telah memasuki masa produktif sehingga telur hasil panen kini sudah dipasarkan kepada masyarakat Desa Liuk Bulu. Kehadiran produksi telur lokal tersebut menjadi alternatif bagi warga untuk memperoleh kebutuhan pangan dengan harga yang lebih terjangkau, sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Kepala Desa Liuk Bulu, Acong, menyampaikan apresiasi pemerintah atas dukungan yang diberikan melalui Dana Desa serta kebijakan yang mendorong desa memiliki BUMDes sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat.
"Kami mengucapkan terima kasih dan rasa syukur kepada Pemerintah Pusat melalui Dana Desa, serta atas dorongan agar setiap desa memiliki BUMDes. Berkat dukungan tersebut, kami bersama pengurus BUMDes Taka Liuk Bulu berani memulai usaha peternakan ayam petelur ini. Puji Tuhan, kini usaha tersebut mulai menunjukkan hasil yang nyata bagi kemajuan desa," ujarnya.
Menurut Acong, produksi telur saat ini memang belum mencapai kapasitas maksimal karena tidak seluruh ayam telah memasuki masa bertelur. Oleh karena itu, hasil panen masih terbatas.
Untuk sementara telur dipasarkan dalam satu piring berisi 39 butir dengan harga promosi Rp50 ribu. Kebijakan tersebut diambil agar masyarakat tetap dapat membeli telur dengan harga yang terjangkau, sekaligus memperkenalkan produk lokal hasil usaha BUMDes.
"Harapan kami, masyarakat dapat merasakan langsung manfaat dari keberadaan usaha ini. Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan, hasil usaha ini nantinya juga akan kembali kepada masyarakat melalui pembangunan desa," katanya.
Acong berharap pemerintah dapat terus memberikan dukungan agar usaha peternakan tersebut berkembang lebih besar. Bantuan berupa pakan ternak, penambahan bibit ayam petelur, hingga pelatihan manajemen usaha dinilai sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas produksi.
"Kami berharap pemerintah terus memberikan dukungan, baik berupa bantuan pakan ternak maupun penambahan bibit ayam. Hal ini sangat kami butuhkan agar usaha BUMDes Taka Liuk Bulu dapat berkembang lebih besar. Keuntungan dari penjualan telur nantinya akan digunakan kembali untuk pengembangan usaha sekaligus mendukung pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Liuk Bulu," tuturnya.
Keberhasilan awal peternakan ayam petelur ini menjadi bukti bahwa Dana Desa tidak hanya dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur, tetapi juga dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha produktif.
Apabila dikelola secara berkelanjutan, BUMDes Taka Liuk Bulu berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi desa, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes), serta memperkuat ketahanan pangan masyarakat di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan.
Ke depan, Pemerintah Desa Liuk Bulu menargetkan kapasitas produksi terus meningkat sehingga mampu memenuhi kebutuhan telur masyarakat secara lebih luas. Dukungan berkelanjutan dari pemerintah melalui bantuan bibit unggul, pakan ternak, pendampingan teknis, hingga pelatihan pengelolaan usaha diharapkan mampu mempercepat pengembangan BUMDes sebagai pilar utama kemandirian ekonomi desa.


