Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BALIKPAPAN - Sorak sorai Nonton Bareng (Nobar) semifinal Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Prancis melawan Spanyol berlangsung meriah di videotron depan Rumah Jabatan (Rumjab) Ketua DPRD Balikpapan, Rabu (15/7/2026).
Sejak peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan ditiup, atmosfer kontras langsung terasa. Pendukung tim Les Bleus tertunduk lesu dan tak dapat menyembunyikan kekecewaan mereka.
Sebab, mayoritas pengamat sepak bola dunia sebelumnya lebih diunggulkan Prancis untuk melenggang mulus ke babak final.
Di sudut lain, pendukung tim La Roja justru bersorak kegirangan sambil membentangkan bendera kebangsaan Spanyol.
Kekesalan para suporter Prancis pun sempat pecah saat performa bintang mereka dinilai melempem. "Pulang saja Mbappe!" teriak salah seorang penonton di area nobar.
Kebanggaan besar juga dirasakan oleh Komisioner Bawaslu Balikpapan, Dedi Irawan.
Sebagai pendukung setia Spanyol sejak lama, ia menyaksikan pertandingan tersebut dengan nobar di halaman parkir Kantor Bawaslu Balikpapan, Jalan MT Haryono, Kelurahan Damai Baru untuk mengawal laga hidup-mati tersebut.
Menurut Dedi, kemenangan Spanyol kali ini sangat layak karena skuad asuhan Luis De la Fuente tampil jauh lebih disiplin dan terorganisasi dengan baik.
"Kalau dari sisi ketertiban pasukan memang lebih tertib, lebih rapi secara personel," ujar Dedi bangga.
"Passing-passing bola tim Spanyol ini luar biasa akurat. Mulai dari Cucurella, Yamal, sampai barisan bek sukses menyuplai bola dengan matang dari tengah ke depan," sambungnya dengan menggambarkan jalannya pertandingan.
Dedi menambahkan, dominasi Spanyol di atas lapangan hijau begitu terasa sepanjang laga bergulir.
"Dari sisi penguasaan bola, hampir di atas 50 persen dikuasai anak-anak Spanyol. Jadi memang mereka sangat layak menang," imbuhnya.
Padahal, Dedi mengakui Prancis sebenarnya datang dengan modal yang sangat mengerikan sejak awal kompetisi bergulir pada Juni lalu.
Dengan materi pemain bintang seperti Michael Olise, Ousmane Dembele, hingga Kylian Mbappe, Prancis sempat tampil perkasa dengan menyapu bersih kemenangan di babak penyisihan, 32 besar, hingga 8 besar.
Namun di atas lapangan, taktik jitu Spanyol berhasil membuat barisan penyerang Prancis mati kutu.
Mbappe dikawal luar biasa ketat, sementara serangan dari sisi sayap yang dimotori Dembele dan Olise selalu menemui jalan buntu untuk menembus kotak penalti Spanyol.
"Itulah sepak bola, bola itu bundar. Statistik di atas kertas bisa berbeda dengan realitas di lapangan," tutur Dedi.
Kini, setelah berhasil melewati hadangan besar di "final dini" tersebut, Dedi berharap Spanyol bisa mengulang era keemasan mereka saat merajai sepak bola dunia pada periode silam.
Saat ditanya mengenai calon lawan ideal di partai puncak, ia berharap Spanyol bisa ditantang oleh raksasa Amerika Selatan, Argentina.
"Supaya Piala Dunia ini membangkitkan euforia yang luar biasa bagi sepak bola dunia, laga paling layak di final adalah Spanyol berhadapan dengan Argentina," pungkasnya.


