Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin
SANGATTA — Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 di Kutai Timur (Kutim) kembali memunculkan persoalan klasik membludaknya pendaftar di sejumlah sekolah negeri di Sangatta.
Padahal, secara keseluruhan, kapasitas SMA dan SMK di daerah itu masih melebihi jumlah lulusan SMP yang akan melanjutkan pendidikan.
Data Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Kutim-Bontang menunjukkan, jumlah lulusan SMP negeri dan swasta di Kutim mencapai 2.220 siswa.
Sementara daya tampung SMA dan SMK, baik negeri maupun swasta, tersedia sebanyak 2.708 kursi atau surplus 488 kursi.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa persoalan penerimaan peserta didik di Kutim bukan terletak pada minimnya daya tampung, melainkan belum meratanya distribusi siswa akibat tingginya minat masyarakat terhadap sekolah negeri.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Kutim-Bontang, Paeran mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi penumpukan pendaftar, terutama di wilayah Sangatta.
“Dari data yang kami himpun, lulusan SMP negeri dan swasta sebanyak 2.220 siswa. Sedangkan daya tampung SMA dan SMK, baik negeri maupun swasta mencapai 2.708 siswa. Artinya secara keseluruhan daya tampung sebenarnya mencukupi,” ujarnya.
Untuk mengurai konsentrasi pendaftar di sekolah tertentu, Pemprov Kalimantan Timur (Kaltim) membuka SMA Negeri 2 Sangatta Selatan yang pada tahun pertama menyediakan dua rombongan belajar dengan kapasitas 72 siswa.
Selain itu, pemerintah juga menambah rombongan belajar di SMA Negeri 1 Sangatta Utara dan SMA Negeri 1 Sangatta Selatan.
Penambahan dilakukan masing-masing satu rombongan belajar dengan kapasitas 36 siswa.
Dari total 2.708 kursi yang tersedia, SMA dan SMK negeri menampung 1.728 siswa, sedangkan sekolah swasta menyediakan 980 kursi.
Namun, hingga pertengahan masa penerimaan siswa baru, sejumlah sekolah swasta dilaporkan masih memiliki kapasitas yang cukup besar.
Kepala Seksi Pendidikan Menengah Atas (PMA) dan Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II, Sri Wahyuni menyebut beberapa SMA swasta yang masih membuka pendaftaran antara lain SMA IT Darussalam, SMA Plus Budhi Luhur Mandiri, SMA Prima YPPSB dan SMA Katolik Santo Fransiskus Assisi.
“Sementara untuk jenjang kejuruan, masih tersedia kursi di SMKS Muhammadiyah, SMKS Hasanuddin Sangatta Selatan, SMKS Islam Nurul Hikmah, dan SMKS Bhineka Singa Geweh,” katanya.
Fenomena ini menumpuknya pendaftar di sekolah negeri sendiri bukan hal baru di Kutim. Setiap tahun, sekolah-sekolah negeri di Sangatta menjadi tujuan utama calon peserta didik, sedangkan sejumlah sekolah swasta masih berupaya memenuhi kuota penerimaan.
Kondisi tersebut menunjukkan masih kuatnya persepsi masyarakat yang menganggap sekolah negeri lebih unggul dibanding swasta.
Akibatnya, kebijakan penambahan ruang belajar terus menjadi solusi jangka pendek yang harus diambil pemerintah.
Di tengah surplus daya tampung yang dimiliki Kutim, tantangan terbesar pemerintah saat ini adalah memastikan pemerataan peserta didik dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan di sekolah swasta.
Sebab, selama pola pikir itu belum berubah, persoalan antrean panjang di sekolah negeri diperkirakan akan terus berulang setiap tahun.


