Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin
NUNUKAN – Upaya mengendalikan Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO) di Provinsi Kalimantan Utara masih menghadapi tantangan serius. Hingga pertengahan 2026, tingkat keberhasilan pengobatan pasien TBC RO baru mencapai sekitar 50 persen, masih terpaut jauh dari target nasional yang ditetapkan sebesar 80 persen.
Di Kabupaten Nunukan, kondisi serupa juga terlihat dari capaian penemuan kasus yang belum optimal. Memasuki triwulan II 2026, kasus TBC yang berhasil ditemukan baru mencapai 236 kasus atau sekitar 23 persen dari target yang telah ditetapkan.
Rendahnya capaian tersebut tidak hanya dipengaruhi masih banyaknya kasus yang belum terdeteksi, tetapi juga tingginya angka pasien yang tidak menyelesaikan pengobatan. Proses terapi TBC RO yang berlangsung dalam waktu lama, disertai efek samping obat yang berat, kerap membuat pasien memilih menghentikan pengobatan sebelum dinyatakan sembuh. Kondisi itu diperparah dengan pendampingan psikososial yang belum berjalan optimal.
Melihat tantangan tersebut, Rumah Sakit Umum (RSU) Sebatik mengambil langkah konkret dengan memperkuat kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan Training on DRTB Management and Service for Health Workers.
Direktur RSU Sebatik, H Abdul Rahim menegaskan, rumah sakit di kawasan perbatasan memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan setiap pasien TBC RO memperoleh pelayanan yang sesuai standar, mulai dari diagnosis hingga menyelesaikan seluruh rangkaian pengobatan.
Menurutnya, penanganan TBC RO tidak cukup hanya mengandalkan pemberian obat. Pasien membutuhkan pendampingan secara menyeluruh karena pengobatan berlangsung dalam jangka panjang dengan efek samping yang cukup berat sehingga berpotensi menurunkan kepatuhan berobat.
"Penanganan TBC RO tidak cukup hanya dengan memberikan obat. Pasien membutuhkan pendampingan yang menyeluruh karena pengobatan berlangsung lama, efek samping obat cukup berat dan sering kali membuat pasien memilih berhenti berobat. Di sinilah peran tenaga kesehatan harus semakin kuat," ujar Abdul Rahim.
Ia mengatakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan menjadi salah satu strategi utama untuk meningkatkan kepatuhan pasien menjalani terapi hingga tuntas.
"Sebagai rumah sakit di wilayah perbatasan, kami berkomitmen terus meningkatkan mutu layanan klinis secara komprehensif. Kami ingin seluruh tenaga kesehatan memiliki standar penanganan yang sama sehingga pasien mendapatkan pelayanan terbaik. Harapannya, angka kepatuhan berobat meningkat dan tingkat kesembuhan pasien TBC RO juga ikut naik," katanya.
Abdul Rahim menambahkan, penguatan layanan TBC RO tidak hanya menyasar aspek klinis, tetapi juga mencakup administrasi program, pencatatan dan pelaporan kasus, pengelolaan logistik obat, serta koordinasi lintas sektor agar pelayanan kepada pasien berjalan lebih efektif dan berkesinambungan.


