Taman Terpadu Dinilai Lebih Efektif, DLH Usul Gabungkan Fasilitas Anak hingga Lansia

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Ruang terbuka hijau yang ada di Samarinda. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Ruang terbuka hijau yang ada di Samarinda. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Taman Terpadu Dinilai Lebih Efektif, DLH Usul Gabungkan Fasilitas Anak hingga Lansia

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Ruang terbuka hijau yang ada di Samarinda. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Ruang terbuka hijau yang ada di Samarinda. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Taman Terpadu Dinilai Lebih Efektif, DLH Usul Gabungkan Fasilitas Anak hingga Lansia

Ruang terbuka hijau yang ada di Samarinda. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA - Pengembangan ruang terbuka hijau di Samarinda dinilai tidak perlu dilakukan dengan membangun taman baru untuk setiap kelompok masyarakat. Sebaliknya, konsep taman multifungsi dinilai lebih efektif, dengan menggabungkan fasilitas ramah anak, lansia, difabel, hingga ruang hijau dalam satu kawasan.

Usulan tersebut disampaikan Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Basuni, menyikapi wacana pembangunan taman lansia yang sebelumnya sempat disampaikan Wali Kota Samarinda.

Menurut Basuni, hingga kini DLH belum dilibatkan dalam pembahasan teknis mengenai lokasi maupun desain taman lansia karena pembangunan fisik taman umumnya menjadi kewenangan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Sementara DLH baru berperan setelah taman selesai dibangun dan diserahkan untuk dikelola.

Meski demikian, ia menilai kebutuhan ruang publik yang ramah bagi seluruh kelompok masyarakat memang perlu menjadi perhatian dalam setiap pembangunan taman baru.

"Kalau kebutuhan itu sebenarnya hampir semua taman harus mengakomodasi lansia, difabel, dan anak. Itu sudah menjadi salah satu indikator penilaian sebuah kota," kata Basuni.

Ia mengusulkan agar pembangunan playground yang selama ini menjadi program rutin pemerintah dapat dikembangkan menjadi taman terpadu. Dengan sedikit penambahan luas lahan dan fasilitas, satu proyek dinilai dapat memenuhi beberapa target pembangunan sekaligus.

Ia mengaku telah menyampaikan gagasan tersebut kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2PA) agar diusulkan dalam perencanaan pembangunan.

Menurutnya, playground tidak hanya berfungsi sebagai area bermain anak, tetapi juga dapat dilengkapi jalur ramah difabel, area aktivitas lansia, serta ruang hijau yang nyaman bagi masyarakat.

"Kalau playground itu sekalian dilengkapi fungsi taman, fungsi untuk lansia, dan difabel, hasilnya bisa lebih banyak," terangnya.

Basuni menilai konsep tersebut juga lebih efisien dibanding membangun fasilitas secara terpisah. Selain memperkuat kualitas ruang publik, konsep taman terpadu juga dinilai dapat mendukung berbagai target pembangunan kota, mulai dari kota layak anak, ruang terbuka hijau, hingga penyediaan fasilitas publik yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

"Jadi satu pembangunan bisa memenuhi beberapa indikator sekaligus," pungkasnya