Petikan Sape Agus Leo Saputra, Hidupkan Budaya Kalimantan di Sudut Bendali Telaga Sari

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Agus Leo Saputra memainkan alat musik Sape di simpang Bendali Telaga Sari Balikpapan, Sabtu (18/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Agus Leo Saputra memainkan alat musik Sape di simpang Bendali Telaga Sari Balikpapan, Sabtu (18/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Petikan Sape Agus Leo Saputra, Hidupkan Budaya Kalimantan di Sudut Bendali Telaga Sari

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Agus Leo Saputra memainkan alat musik Sape di simpang Bendali Telaga Sari Balikpapan, Sabtu (18/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Agus Leo Saputra memainkan alat musik Sape di simpang Bendali Telaga Sari Balikpapan, Sabtu (18/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Petikan Sape Agus Leo Saputra, Hidupkan Budaya Kalimantan di Sudut Bendali Telaga Sari

Agus Leo Saputra memainkan alat musik Sape di simpang Bendali Telaga Sari Balikpapan, Sabtu (18/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin

BALIKPAPAN - Lentingan dawai instrumen tradisional khas Kalimantan terdengar syahdu menyapa siapa saja yang melintasi kawasan Jalan Kapten Piere Tendean, tepatnya di simpang Bendali Telaga Sari, Sabtu (18/7/2026) sore. 

Di bawah keteduhan pohon rindang dan tenangnya air bendali, alunan melodi merdu itu lahir dari jemari seorang pemuda bernama Agus Leo Saputra.

Suara musiknya terdengar sangat sopan di telinga pendengar. Bagi sebagian orang, aktivitas tersebut mungkin sekadar terlihat seperti mengamen.

Namun bagi pemuda asal Paser ini, ada misi yang jauh lebih mulia, yaitu memperkenalkan dan melestarikan kekayaan budaya daerah.

Bergerak atas inisiatif sendiri sejak pukul 15.00 WITA, Agus dengan telaten memetik instrumen kesayangannya di pinggir jalan. 

Ia tidak menampik jika bahasa kasarnya aktivitas ini disebut mengamen. Tapi, melakoninya dengan cara yang terhormat.

"Kalau mengamen itu kan kami di sini tidak yang pasang botol (memaksa meminta uang). Kami tidak meminta. Cuma kalau ada yang memberi, ya kita ambil," ucap Agus ramah saat berbincang.

Ia juga memastikan aksinya ini telah mengantongi izin agar tidak memicu kesalahpahaman dengan lembaga atau pihak berwenang.

"Biasanya kebanyakan orang tahu main saja tapi tidak urus izin. Kalau saya sudah ada izinnya," tambahnya.

Sebagai pemuda suku Paser yang kini menetap di Balikpapan atau yang biasa disebut komunitas Paser Balik, semangat Agus untuk menjaga eksistensi seni tradisional begitu membara. Ia menolak percaya bahwa budaya daerah akan luntur digilas zaman.

"Kita maunya budaya ini sampai mendunia. Bukan mau melangkahi budaya lain, karena semua budaya itu sama baiknya. Ini semua tergantung bagaimana orang melihat dan menyukainya," kata Agus optimis. 

Menurutnya, selama masyarakat masih bisa menilai dan mengapresiasi keindahan seni ini, budaya tersebut akan tetap lestari.

Siapa sangka, latar belakang Agus sebenarnya adalah seorang penari tradisional di Sepinggan. Ketertarikannya yang besar pada instrumen Kalimantan membuatnya nekat mempelajari alat musik dawai ini.

"Kalau dibilang hobi bisa, pemain musik juga bisa. Aslinya saya ini penari Sepinggan, bukan murni pemain Sape. Tapi karena hobi, saya belajar dan berguru juga dari teman-teman yang lebih senior," akunya merendahkan hati dan mengaku masih berstatus pemula.

Agus menceritakan bahwa instrumen dawai khas Kalimantan ini sangat kaya ragamnya, mulai dari Sape, Kecapi, hingga Kentilan. 

Sore itu, ia membawakan lagu Sejauh Setanam yang sudah diaransemen ulang secara cover.
Bagi Agus, tantangan terbesar bermain instrumen ini adalah saat menyentuh ranah musik tradisi yang asli. 

Berbeda dengan musik modern yang dikover, musik tradisi murni memiliki pakem dan ketukan yang sangat rumit.

"Kalau tradisi itu susah, tidak gampang. Biasanya yang betul-betul bisa itu orang Dayak yang berada di hulu atau pedalaman. Ketukannya berbeda-beda, seperti ketukan Kenyah dan Bahau itu petikannya punya ciri khas sendiri. Kalau untuk di kota, kebanyakan kita memang mainnya yang versi cover," pungkasnya.