Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin
TENGGARONG - Turnamen Sepak Bola Martadipura Cup 3 yang digelar di Lapangan Sepak Bola Martadipura, Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar) menghadirkan nuansa berbeda dibandingkan turnamen sepak bola tingkat desa pada umumnya.
Panitia menghadirkan teknologi Video Assistant Referee (VAR) dan layanan siaran langsung (streaming) untuk sejumlah pertandingan.
Turnamen yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Desa Liang itu diikuti puluhan klub dari berbagai daerah di Kalimantan Timur (Kaltim) dengan total hadiah mencapai Rp108 juta.
Kepala Desa Liang, Rodiani mengatakan penggunaan VAR pada pembukaan turnamen dilakukan sebagai uji coba. Teknologi tersebut disewa dari penyedia jasa di Tenggarong.
“Untuk pembukaan saja kemarin uji coba. Jadi itu kami sistem sewa,” kata Rodiani.
Rodiani menilai penggunaan VAR dalam turnamen lokal cukup efektif untuk membantu wasit mengambil keputusan sekaligus meningkatkan kualitas pertandingan.
“Sebetulnya efektif saja, lebih baik sebetulnya karena banyak permintaan juga, termasuk minta streaming. Tapi ya kendala biaya,” ucapnya.
Menurutnya, apabila VAR digunakan selama turnamen berlangsung secara penuh, biaya yang harus disiapkan cukup besar. “Kalau full turnamen kontraknya itu Rp80 juta,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, pada awalnya panitia tidak merencanakan penggunaan VAR. Tapi setelah mendapat penawaran dari penyedia jasa, akhirnya teknologi tersebut digunakan pada laga pembukaan dan direncanakan kembali dipakai pada babak semifinal serta final.
“Memang hari itu nggak ada persiapan untuk VAR, cuma kami pas ditawari. Akhirnya diambil untuk pembukaan, mungkin semifinal dengan finalnya. Final itu ‘kan perebutan juara satu dan dua, jadi dua kali terakhir itu dipakai,” jelasnya.
Meski dinilai mampu meningkatkan kualitas pertandingan, biaya operasional VAR tergolong tinggi.
Rodiani menyebut untuk penggunaan pada laga pembukaan saja panitia harus mengeluarkan dana sekitar Rp11 juta. “Pembukaan hari itu saja Rp11 juta biayanya,” pungkasnya.
Rodiani menjelaskan, turnamen tahun ini diikuti sekitar 56 klub dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.
Selain tim dari Kutai Kartanegara, peserta juga berasal dari Kutai Timur, Kutai Barat dan daerah lainnya. “Itu ada yang dari Kutim, Kubar, ada juga Tenggarong atau Samarinda, belum tahu lagi. Umumnya untuk se-Kaltim,” katanya.
Panitia menyediakan hadiah yang cukup besar untuk menarik minat peserta. Juara pertama akan membawa pulang hadiah sebesar Rp60 juta, juara kedua Rp25 juta, juara ketiga Rp15 juta, dan juara keempat Rp8 juta.


