Dispursip Samarinda Ajak Warga Wakaf Buku, Koleksi Lama Dinilai Masih Bernilai Edukasi

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Koleksi buku di Perpustakaan Kota Samarinda. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Koleksi buku di Perpustakaan Kota Samarinda. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Dispursip Samarinda Ajak Warga Wakaf Buku, Koleksi Lama Dinilai Masih Bernilai Edukasi

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Koleksi buku di Perpustakaan Kota Samarinda. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Koleksi buku di Perpustakaan Kota Samarinda. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Dispursip Samarinda Ajak Warga Wakaf Buku, Koleksi Lama Dinilai Masih Bernilai Edukasi

Koleksi buku di Perpustakaan Kota Samarinda. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA – Buku-buku yang hanya tersimpan di rak rumah dinilai masih memiliki nilai manfaat bagi masyarakat. Karena itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Samarinda kembali mengajak warga mendonasikan koleksi bacaan melalui Gerakan Wakaf Literatur yang telah dijalankan sejak beberapa tahun terakhir. 

Gerakan ini juga telah memiliki dasar hukum melalui Peraturan Wali Kota Samarinda Nomor 64 Tahun 2022 tentang Gerakan Wakaf Literatur. 

Kepala Dispursip Kota Samarinda Erham Yusuf mengatakan, pengadaan koleksi perpustakaan tidak hanya mengandalkan anggaran pemerintah, tetapi juga partisipasi masyarakat melalui program wakaf buku.

"Kami mengajak masyarakat mewakafkan buku atau benda-benda yang memiliki nilai literasi agar bisa dimanfaatkan lebih luas," kat Erham.

Menurutnya, literatur tidak terbatas pada buku. Berbagai benda yang merekam perkembangan teknologi juga dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang, seperti mesin tik manual, telepon lawas, hingga perangkat pemutar musik.

Generasi saat ini, kata dia, mungkin tidak lagi mengenal alat komunikasi atau perangkat musik zaman dulu. Apabila benda-benda itu disimpan di perpustakaan, menurutnya bisa menjadi referensi sejarah perkembangan teknologi. 

Ia menilai masih banyak buku di rumah warga yang sebenarnya sudah tidak lagi dibaca, tetapi tetap layak dimanfaatkan oleh masyarakat melalui perpustakaan.

"Selain bermanfaat bagi masyarakat, itu juga bisa menjadi amal jariah," ucapnya.

Erham menegaskan buku pengetahuan tidak memiliki masa kedaluwarsa selama isi materinya masih relevan.

Melalui gerakan tersebut, Dispursip berharap koleksi literasi di perpustakaan daerah terus bertambah tanpa sepenuhnya bergantung pada kemampuan anggaran pemerintah, sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mendukung budaya membaca.

Erham menjelaskan kemampuan pengadaan buku fisik melalui APBD tahun ini masih terbatas. Anggaran yang tersedia lebih difokuskan untuk koleksi digital, sedangkan pengadaan buku fisik belum dapat direalisasikan.

"Tahun ini pengadaan buku digital sekitar Rp130 juta. Untuk buku fisik belum ada anggaran, mudah-mudahan nanti saat perubahan bisa dialokasikan," katanya.

Besaran anggaran perpustakaan sangat bergantung pada kemampuan keuangan daerah. Karena itu, pihaknya mencari alternatif dengan melibatkan masyarakat untuk memperkaya koleksi perpustakaan.

"Kalau sumber pendapatan daerah terbatas, tentu kita juga harus menyesuaikan," pungkasnya.