Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi menterapkan inovasi unik dengan membocorkan atau spill wujud medali untuk ajang Festival Nontunai Nusantara Running (FENTURUN) 2026.
Berbeda dari medali lari pada umumnya yang berbahan logam cair atau besi, medali kali ini dibuat memanfaatkan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK).
Robi Ariadi mengungkapkan bahwa penggunaan briket limbah uang kertas ini merupakan bagian dari kampanye keberlanjutan atau green economy dan penerapan ekonomi sirkular.
"Medalinya merupakan briket dari racikan uang kertas atau limbah racik uang kertas. Ini bagian dari kampanye green dan sustainable energy. Total medali yang dicetak sebanyak 3.500 buah di Bandung," ucap Robi dalam kegiatan bincang santai, Rabu (22/7/2026).
Ia menjelaskan, limbah uang kertas tersebut berasal dari Uang Tidak Layak Edar (UTLE) atau uang lusuh yang telah ditarik oleh Bank Indonesia.
Pengolahan limbah uang kertas menjadi medali ini menjadi yang kedua di Indonesia setelah sebelumnya diterapkan di Bali.
"Kami punya standarnya, yaitu soil level. Jika kualitas uang berada di bawah standar layak edar, maka uang tersebut akan dimusnahkan dan diracik. Selain dijadikan medali, limbah uang kertas ini di kami juga dimanfaatkan sebagai bahan bakar substitusi batu bara untuk PLN lewat skema waste to energy. Sampai semester I ini, ada sekitar 28 ton limbah uang kertas yang dialokasikan," terangnya.
Ajang FENTURUN 2026 sendiri bakal digelar pada 26 Juli 2026 mendatang di Pantai Kilang Mandiri Balikpapan. Event yang mengusung tema "Step for the Run, Step for the Future" ini diikuti oleh 3.500 peserta pada kategori 5K, 10K, dan Half Marathon (21K). Tiket pendaftaran yang dibuka pada 5-6 Juni lalu bahkan sudah habis kuotanya.
Selain aktivitas lari, FENTURUN 2026 dirancang sebagai ruang edukasi dan penguatan ekosistem digital. Seluruh transaksi di area kegiatan, mulai dari pengambilan race pack, belanja di 18 booth UMKM F&B, hingga berbagai layanan publik diwajibkan menggunakan QRIS dengan tarif nominal Rp1.
"Tahun ini peserta naik jadi 3.500 dari tahun lalu yang sebanyak 2.000 orang. Dalam satu kali event ini, kami menargetkan bisa menciptakan sekitar 35 ribu hingga 50 ribu transaksi nontunai," jelas Robi.
Target tersebut diharapkan turut mendongkrak capaian transaksi QRIS secara keseluruhan.
Berdasarkan data KPw BI Balikpapan hingga Mei 2026, akumulasi transaksi QRIS di wilayah operasionalnya telah menembus 39,28 juta transaksi atau senilai Rp4,26 triliun.
Angka ini mencakup hampir 46 persen dari target tahunan BI Balikpapan sebesar 83 juta transaksi.
Untuk mendukung kenyamanan peserta dan pengunjung, ajang FENTURUN 2026 melibatkan 18 UMKM kuliner unggulan. Robi menyebutkan, penentuan pelaku UMKM yang terlibat dilakukan secara ketat melalui tiga kriteria kurasi.
Pertama, sistem pembayaran digital. UMKM wajib memiliki dan mengoperasikan kanal pembayaran QRIS.
Kedua, jaminan halal. Pelaku usaha diprioritaskan telah memiliki sertifikasi halal thoyyiban.
Ketiga, pemerataan. BI mendorong munculnya pelaku UMKM baru agar kesempatan berjualan di event besar tidak hanya didominasi oleh pelaku usaha yang sama.
"Kami ingin kampanyenya luas. Tidak hanya dorong pembayaran digital via QRIS, tapi juga dorong kepemilikan sertifikat halal serta memberi panggung bagi pemain-pemain baru di industri UMKM lokal," pungkasnya.


