Banner ADV

Batik Berau Curi Perhatian di Harganas, Didorong Tembus Pasar Nasional

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Batik Berau yang ditampilkan di Harganas ke-33 tahun 2026. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Batik Berau yang ditampilkan di Harganas ke-33 tahun 2026. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Batik Berau Curi Perhatian di Harganas, Didorong Tembus Pasar Nasional

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Batik Berau yang ditampilkan di Harganas ke-33 tahun 2026. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Batik Berau yang ditampilkan di Harganas ke-33 tahun 2026. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Batik Berau Curi Perhatian di Harganas, Didorong Tembus Pasar Nasional

Batik Berau yang ditampilkan di Harganas ke-33 tahun 2026. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Batik Berau terus didorong untuk naik kelas. 

Tak hanya menjadi kain bermotif khas daerah, wastra lokal tersebut kini dikembangkan menjadi bagian dari industri fesyen, sekaligus peluang ekonomi baru bagi para pelaku usaha kreatif di Kabupaten Berau.

Upaya memperluas pasar batik lokal kembali dilakukan melalui Bazar Gelar Produk dalam rangkaian Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Timur. 

Kegiatan ini menjadi ruang bagi pelaku UMKM Berau untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.

Salah satu produk yang mendapat perhatian adalah batik karya Putri Arofah, pendiri Batik Putri Maluang. Koleksi tersebut diperkenalkan secara langsung kepada Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud bersama Ketua Dekranasda Provinsi Kaltim, Sarifah Suraidah, Ketua Dekranasda Kabupaten Berau Brigjen Pol. Edy Suswanto, serta Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas.

Keberadaan batik Berau di ajang tersebut dinilai bukan hanya sebagai bagian dari pelestarian budaya.

Lebih dari itu, batik lokal memiliki potensi untuk menjadi komoditas ekonomi kreatif yang mampu membuka peluang usaha sekaligus meningkatkan pendapatan para perajin.

Perkembangan produk batik pun mulai mengikuti perubahan selera pasar. Motif khas Berau tidak lagi hanya diaplikasikan pada kain atau pakaian formal, tetapi telah dikembangkan dalam berbagai model busana seperti kemeja, gaun, outer hingga jaket.

Perpaduan antara motif tradisional dan desain modern menjadi strategi untuk memperluas segmen konsumen, termasuk kalangan anak muda.

Ketua Dekranasda Berau, Brigjen Pol Edy Suswanto mengatakan pengembangan batik dan produk kriya daerah membutuhkan dukungan bersama, mulai dari peningkatan kualitas produk hingga perluasan akses pemasaran.

“Kami ingin batik Berau semakin dikenal, dicintai masyarakat, dan mampu bersaing hingga pasar nasional bahkan internasional,” tegasnya.

Menurutnya, kreativitas menjadi salah satu kunci agar produk lokal dapat bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri fesyen. 
 
Untuk itu inovasi desain dan kolaborasi dengan para pelaku ekonomi kreatif terus didorong agar produk batik Berau memiliki nilai jual yang semakin tinggi.

Dorongan penggunaan produk lokal juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem batik di daerah. Dekranasda Berau mengajak ASN, pekerja swasta hingga masyarakat untuk lebih sering menggunakan batik dan tenun khas daerah. 

Sebab semakin tinggi penggunaan produk lokal, maka semakin besar pula peluang pasar yang tercipta bagi perajin dan pelaku UMKM.

Melalui penguatan promosi, inovasi desain dan dukungan terhadap penggunaan produk lokal, batik Berau diharapkan tidak berhenti sebagai simbol budaya. 

Namun, dapat tumbuh menjadi industri kreatif yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus membawa nama Berau semakin dikenal melalui karya anak daerah. (Adv)