KPU Balikpapan Gencarkan Edukasi Pemilih Muda, Ungkap Modus Politik Uang Berkedok 'Sedekah Subuh'

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Suasana sosialisasi di Asta Coffee Balikpapan, Kamis (23/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Suasana sosialisasi di Asta Coffee Balikpapan, Kamis (23/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

KPU Balikpapan Gencarkan Edukasi Pemilih Muda, Ungkap Modus Politik Uang Berkedok 'Sedekah Subuh'

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Suasana sosialisasi di Asta Coffee Balikpapan, Kamis (23/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Suasana sosialisasi di Asta Coffee Balikpapan, Kamis (23/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

KPU Balikpapan Gencarkan Edukasi Pemilih Muda, Ungkap Modus Politik Uang Berkedok 'Sedekah Subuh'

Suasana sosialisasi di Asta Coffee Balikpapan, Kamis (23/7/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Praktik politik uang (money politics) atau yang akrab disapa "serangan fajar" kerap menjadi ancaman yang membayang-bayangi setiap gelaran pesta demokrasi. 

Isu krusial ini mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan bagi Pemilih Muda yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Balikpapan bertajuk "Menjadi Pemilih Cerdas, Menciptakan Demokrasi Berkualitas" di Asta Coffee, Kamis (23/7/2026).

Ketua KPU Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang khusus untuk merangkul keterlibatan aktif para pemuda di Kota Balikpapan. 

Langkah ini diambil guna memastikan lahirnya kepemimpinan yang ideal melalui proses demokrasi yang bersih.

"Harapannya nanti tiba pada waktunya Pemilu dan Pilkada, pemilih-pemilih yang akan datang itu adalah pemilih-pemilih cerdas, sehingga harapannya dapat terpilih pemimpin-pemimpin yang berkualitas. Karena pemimpin yang berkualitas dihasilkan oleh demokrasi yang berkualitas, dan demokrasi yang berkualitas ditentukan oleh kecerdasan pemilihnya," tegas Yudho.

Seiring bertambahnya jumlah pemilih dari generasi Milenial dan Generasi Z yang berusia di bawah 40 tahun, KPU terus berupaya meningkatkan frekuensi edukasi untuk memperkuat kesadaran politik mereka. 

Yudho berpesan agar rasa kecewa terhadap dinamika politik saat ini tidak dijadikan alasan untuk bersikap apatis. 

Menurutnya, pemuda harus mengambil tindakan nyata lewat pilihan yang beredukasi.

"Jika hari ini banyak kekecewaan terhadap kondisi masyarakat atau negara kita, bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Harus ada sikap yang dikerjakan berdasarkan evaluasi yang ada, salah satunya dengan menjadi pemilih cerdas. Ciri pemilih cerdas itu benar-benar tahu siapa yang dipilih, mengerti gagasan yang dibawa, paham visi-misi, tidak termakan informasi tidak benar, anti-hoaks, dan anti-politik uang," lanjutnya.

Dalam agenda tersebut, KPU Balikpapan juga menghadirkan akademisi sekaligus Direktur Perpustakaan Universitas Balikpapan (Uniba), Imam Ary Wibowo.

Yudho menilai hadirnya perspektif ekonomi sangat relevan karena kebijakan politik dan kondisi ekonomi masyarakat saling berkelindan erat.

"Kebijakan politik menghasilkan kondisi ekonomi, dan kondisi ekonomi dihasilkan oleh kebijakan politik. Politik uang itu musuh kita bersama, dan sekali lagi KPU tidak bisa bekerja sendiri. Kami mengajak seluruh komponen masyarakat, baik pemilih maupun media, untuk sama-sama bekerja agar politik uang itu minim," ujar Yudho.

Sementara akademisi Uniba, Imam Ary Wibowo Satria Utama menyoroti fenomena politik uang yang kian mengakar dan kini kerap dibungkus dengan istilah baru seperti "sedekah subuh". 

Menurutnya, cara paling fundamental untuk mengikis praktik pragmatis tersebut adalah melalui peningkatan kesejahteraan dan pemberian literasi yang berkelanjutan kepada masyarakat.

"Cara efektif untuk menghilangkan money politic itu cuma satu, yaitu menaikkan kesejahteraan masyarakat. Jadi kalau masyarakatnya sudah sejahtera, dia enggak akan melirik untuk uang begitu," jelas Imam yang dikenal sebagai pengamat ekonomi.

Imam menambahkan bahwa bagi masyarakat berpenghasilan rendah, tawaran uang politik sering kali terasa sangat menggiurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga, sehingga menjadi dilema tersendiri.

"Beda dengan ketika kita dihadapkan pada pilihan bagaimana asap dapur kita terus mengepul atau bagaimana anak bisa makan. Katakanlah mereka punya pendapatan hanya Rp300.000 per bulan, kemudian ditawari money politic sebesar Rp1.000.000, ini 'kan menggiurkan," ungkapnya.

Situasi tersebut diperparah oleh adanya kecenderungan budaya masyarakat Timur yang kerap merasa terbebani secara moral ketika telah menerima pemberian dari orang lain.

"Dampak dari kita terima uang ini, kita orang Timur ini kan 'makan jasa' ya. Sudah terima uangnya, masa enggak kita coblos? Nah, ini akhirnya jadi masalah. Padahal dampaknya ketika kita salah dalam proses memilih, maka lima tahun akibatnya akan kita rasakan," tuturnya.

Dengan demikian, Imam menegaskan bahwa perubahan nama atau istilah tidak akan pernah mengubah esensi buruk dari politik uang itu sendiri.

"Walaupun serangan fajar sudah berganti nama jadi sedekah subuh dengan kesan yang luar biasa bagus, tapi esensinya masih sama. Saya punya keyakinan siapapun yang memberikan uang dalam proses pencoblosan itu kurang baik. Niat yang baik, ketika caranya kurang baik, maka hasil akhirnya sudah pasti tidak bagus," imbuhnya.

Bahkan, politik uang disebut setara dengan korupsi, narkoba, dan ancaman besar lainnya. Nah, berhenti sudah!