Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan
TENGGARONG - Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri, menjelaskan alasan belum dibangunnya jembatan di kawasan RT 9, Desa Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, yang selama ini menjadi sorotan karena para pelajar harus menggunakan kereta gantung sederhana untuk menyeberangi sungai.
Kondisi tersebut telah lama menjadi perhatian masyarakat. Setiap hari, para pelajar harus memanfaatkan kereta gantung yang ditarik menggunakan tenaga manusia agar dapat menuju sekolah. Selain pelajar, fasilitas sederhana itu juga digunakan warga untuk menyeberang menuju kebun maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.
Menanggapi hal itu, Aulia mengatakan Pemerintah Kabupaten Kukar telah melakukan langkah mitigasi terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, kawasan yang berada di seberang sungai bukan merupakan kawasan permukiman, melainkan kawasan hutan lindung yang dimanfaatkan sebagian warga untuk berkebun.
Ia menjelaskan, terdapat sekitar 12 kepala keluarga yang selama ini tinggal di kawasan seberang. Namun, secara administratif, rumah mereka sebenarnya berada di sisi lain sungai yang merupakan kawasan permukiman.
“Sejak bulan Maret kemarin kami sudah menginisiasi agar warga kembali menempati rumah asalnya. Mereka berkebun dan mencari penghidupan di seberang, tetapi secara legalitas kawasan itu merupakan hutan lindung,” ujar Aulia. Jumat (24/7/2026)
Menurutnya, Pemkab Kukar juga telah berkoordinasi dengan pihak kehutanan agar kawasan tersebut dapat diproses menjadi kawasan perhutanan sosial. Namun, hingga kini proses tersebut masih berlangsung.
“Sekarang kami sudah berkomunikasi dengan pihak kehutanan bagaimana caranya kawasan itu bisa dijadikan perhutanan sosial. Tetapi itu masih berproses,” katanya.
Aulia menegaskan, pemerintah lebih mendorong agar anak-anak tetap tinggal di kawasan permukiman yang legal, sementara aktivitas berkebun dilakukan oleh orang tua yang bolak-balik menyeberangi sungai.
“Kami mengoptimalkan agar masyarakat kembali tinggal di rumah asalnya. Untuk berkebun silakan di seberang, tetapi sebaiknya orang tuanya yang mondar-mandir, bukan anak-anaknya,” jelasnya.
Terkait usulan pembangunan jembatan, Aulia menegaskan hingga saat ini belum ada rencana untuk merealisasikannya. Alasannya, jembatan tersebut akan menghubungkan kawasan permukiman dengan wilayah yang berstatus hutan lindung.
“Kalau kita buat jembatan, masa kita mau membuat jembatan menuju kawasan hutan lindung? Itu yang menjadi persoalannya. Tempat tinggal warga sebenarnya berada di kawasan Santan Ulu, bukan di kawasan hutan lindung tersebut,” tegasnya.


