Bank Sampah Balikpapan Susut Hampir Separuh, PHM Perkuat 42 Unit Lewat Program CSR

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Bank Sampah Balikpapan Susut Hampir Separuh, PHM Perkuat 42 Unit Lewat Program CSR

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Bank Sampah Balikpapan Susut Hampir Separuh, PHM Perkuat 42 Unit Lewat Program CSR

Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Gerakan bank sampah di Kota Balikpapan belum sepenuhnya pulih setelah pandemi Covid-19. Dari sekitar 130 bank sampah yang pernah aktif, kini hanya sekitar 70 unit yang masih beroperasi. 

Kondisi itu mendorong PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menyalurkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) atau Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) kepada 42 bank sampah unit sebagai upaya menguatkan kembali pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis di Ruang Rapat Jahe, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan. Program ini difokuskan pada penyediaan sarana dan prasarana sesuai kebutuhan masing-masing bank sampah agar mampu meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah di tingkat lingkungan.

Bantuannya meliputi 40 unit timbangan duduk digital, gerobak sampah, mesin pencacah plastik, rehabilitasi atap, pembangunan shelter bank sampah, gerobak sorong, timbangan gantung digital, tempat sampah terpilah, kipas angin, terpal hingga buku tabungan bagi para pengelola.

Senior Manager Projects PHM, Faisal Akbar mengatakan persoalan sampah tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah daerah. Sebab, dunia usaha dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya pengelolaan sampah yang dimulai dari lingkungan keluarga.

"Pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah kota, tetapi juga industri dan masyarakat. Pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu, yaitu dari lingkungan keluarga," ucap Faisal, Jumat (24/7/2026).

Ia berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga mendorong masyarakat semakin aktif memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.

"Kami berharap bantuan ini dapat mendorong masyarakat semakin aktif mengelola sampah sejak tahap awal di tingkat lingkungan. Dengan demikian, budaya memilah dan mengelola sampah dapat tumbuh dari masyarakat itu sendiri," katanya.

Faisal juga mengapresiasi kerja sama yang selama ini terjalin dengan Pemerintah Kota Balikpapan melalui DLH dalam berbagai program pelestarian lingkungan.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan atas kerja sama yang telah terjalin dengan baik. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat," tuturnya.

Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana menyebut dukungan PHM terhadap pengelolaan sampah telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. 

Sebelumnya, PHM juga membantu pemanfaatan gas metana di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Manggar yang kini dimanfaatkan sekitar 380 sambungan rumah untuk kebutuhan memasak warga di sekitar kawasan TPA.

"PHM sudah banyak membantu pengelolaan sampah di hilir melalui pemanfaatan gas metana. Kini dukungan tersebut diperluas ke hulu dengan memperkuat bank sampah di tingkat masyarakat," ujar Dirman sapaannya.

Menurutnya, pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga melalui kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik. 

Sampah organik dapat diolah menjadi kompos maupun pakan ternak, sedangkan sampah anorganik dapat disalurkan ke bank sampah sehingga memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.

Ia juga mengingatkan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus mengurangi ancaman pencemaran, termasuk mikroplastik di wilayah pesisir.

Dirman mengungkapkan jumlah bank sampah di Balikpapan sempat menurun drastis setelah pandemi COVID-19. 

Dari sekitar 130 unit yang pernah aktif, kini hanya sekitar 70 unit yang masih berjalan. Karena itu, bantuan kepada 42 bank sampah dinilai menjadi momentum untuk membangkitkan kembali gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

"Manfaatkan bantuan ini sebaik-baiknya. Pemerintah akan terus mendampingi dan berupaya menggandeng perusahaan lain melalui program CSR agar gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat semakin kuat," pungkasnya.