Banner ADV

Ngopi Kebun di Sambakungan Jadi Langkah Awal Bangun Ekosistem Kopi Liberika Berau

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
kegiatan “Ngopi Di Kebun” yang digelar di kebun kopi Liberika Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
kegiatan “Ngopi Di Kebun” yang digelar di kebun kopi Liberika Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Ngopi Kebun di Sambakungan Jadi Langkah Awal Bangun Ekosistem Kopi Liberika Berau

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
kegiatan “Ngopi Di Kebun” yang digelar di kebun kopi Liberika Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
kegiatan “Ngopi Di Kebun” yang digelar di kebun kopi Liberika Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Ngopi Kebun di Sambakungan Jadi Langkah Awal Bangun Ekosistem Kopi Liberika Berau

kegiatan “Ngopi Di Kebun” yang digelar di kebun kopi Liberika Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Pengembangan kopi Liberika di Kabupaten Berau mulai diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pembentukan ekosistem usaha yang mampu memberikan kepastian kepada petani. 

Ini menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Ngopi Kebun yang digelar di kebun kopi Liberika Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur.

Kegiatan yang mempertemukan petani, pegiat kopi, dan Sekolah Tani Indonesia (STI) tersebut menjadi ruang untuk membahas masa depan Liberika Berau dari sisi hulu hingga hilir.

Mulai dari penguatan kelembagaan petani, peningkatan standar mutu, pengolahan pascapanen, branding hingga jaminan pemasaran menjadi perhatian dalam pengembangan komoditas tersebut.

Founder Sekolah Tani Indonesia (STI), Fatoni Saputra, menilai salah satu tantangan pengembangan kopi di tingkat petani adalah belum adanya kepastian mengenai ke mana hasil produksi akan dijual dan berapa nilai yang akan diterima.

Untuk itu, penguatan kelembagaan menjadi fondasi penting agar petani memiliki keyakinan untuk terus mengembangkan tanaman kopi.

“Kita ingin menguatkan kelembagaan kelompok, standar mutu, branding, dan pemasaran. Petani harus yakin bahwa kopi ini menjanjikan dan ada kepastian pasarnya,” ujarnya.

STI juga mendorong pembentukan koperasi Liberika yang nantinya dapat menaungi petani kopi di Sambakungan. Koperasi tersebut diharapkan menjadi wadah kemitraan sekaligus membantu petani dalam menghimpun dan memasarkan hasil produksi.

Menurut Fatoni, keberadaan kelembagaan tersebut akan memberikan kemudahan bagi petani ketika produksi kopi mulai meningkat. Petani tidak lagi harus mencari pembeli secara sendiri-sendiri, melainkan dapat mengumpulkan hasil panen melalui kelembagaan yang dibangun bersama.

“Kalau teman-teman bingung mau menjual hasil kopinya nanti, bisa melalui Parisau. Sistemnya kita sepakati timbang langsung. Artinya, kita ingin memberikan kepastian pasar,” jelasnya.

Penguatan ekosistem kopi juga akan dilakukan melalui peningkatan kualitas pascapanen. Saat ini, pengolahan Liberika di Berau masih didominasi proses Honey dan Natural. Ke depan, STI berencana memperkenalkan lebih banyak metode pengolahan untuk menghasilkan karakter kopi yang beragam sekaligus meningkatkan nilai tambah produk.

Rencana itu akan didukung dengan pembangunan rumah sekolah sekaligus pusat produksi di kawasan Sambakungan. Tempat tersebut nantinya dapat menjadi ruang belajar bagi petani dan masyarakat yang ingin mendalami budidaya maupun pengolahan kopi.

Fatoni optimistis Liberika Berau memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh. Berdasarkan riset dan pengalaman mencicipi kopi Liberika yang dikembangkan di Sambakungan, ia menilai kualitasnya telah memiliki modal untuk bersaing dengan kopi dari daerah lain, bahkan berpotensi masuk dalam persaingan kopi berkualitas dunia.

“Kami punya mimpi bagaimana mengkopikan Berau. Berau jangan hanya dikenal sebagai kota tambang, tetapi juga punya produk unggulan. Salah satunya kakao, dan kopi hari ini juga harus ikut berkembang,” katanya.

Ke depan, pengembangan Liberika diharapkan tidak berhenti pada kebun-kebun kecil. STI mendorong terbentuknya kawasan produksi dengan luasan yang lebih besar dan dikelola secara terintegrasi. 

Dengan begitu, kopi Liberika dapat tumbuh menjadi komoditas unggulan yang memberikan manfaat ekonomi bagi petani sekaligus memperkuat identitas produk lokal Kabupaten Berau. (Adv)