Sekitar 25 Ribu Penduduk Samarinda Usia Produktif Belum Bekerja

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kepala Disnaker Samarinda, Yuyum Puspitaningrum. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala Disnaker Samarinda, Yuyum Puspitaningrum. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Sekitar 25 Ribu Penduduk Samarinda Usia Produktif Belum Bekerja

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kepala Disnaker Samarinda, Yuyum Puspitaningrum. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala Disnaker Samarinda, Yuyum Puspitaningrum. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Sekitar 25 Ribu Penduduk Samarinda Usia Produktif Belum Bekerja

Kepala Disnaker Samarinda, Yuyum Puspitaningrum. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA - Meski Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Samarinda telah menunjukkan tren penurunan pada 2025, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) menyebut masih terdapat sekitar 25 ribu warga dengan usia produktif belum bekerja. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), TPT turun dari 5,75 persen pada 2024 menjadi 5,31 persen pada 2025.

Kepala Disnaker Samarinda, Yuyum Puspitaningrum, mengatakan penurunan sebesar 0,44 persen tersebut menjadi capaian positif di tengah dinamika ketenagakerjaan yang masih dihadapkan pada berbagai tantangan.

Meski demikian, Yuyum menyebut masih terdapat sekitar 25 ribu penduduk usia produktif yang belum bekerja. Sementara itu, sekitar 95 persen penduduk usia produktif di Samarinda telah terserap di dunia kerja.

Untuk menekan angka pengangguran, Disnaker terus menjalankan berbagai program peningkatan kompetensi tenaga kerja, salah satunya melalui pelatihan kerja bagi masyarakat.

"Saat ini kami sedang menjalankan pelatihan informal batch 6," kata Yuyum.

Selain itu, pelaksanaan Job Fair juga terus dilakukan setiap tahun. Yuyum menepis anggapan bahwa pelaksanaan job fair hanya bersifat seremonial. Menurutnya, kegiatan tersebut telah memberikan kontribusi terhadap penempatan tenaga kerja.

Ia menyebut pada 2025 jumlah penempatan tenaga kerja melalui job fair mengalami peningkatan hingga mencapai lebih dari 500 orang. Capaian itu didukung kolaborasi Disnaker dengan berbagai pihak, termasuk Bursa Kerja Khusus (BKK) yang ada di sekolah maupun perguruan tinggi.

Untuk tahun 2026, Disnaker menargetkan penyelenggaraan sedikitnya dua kali job fair. Selain itu, kegiatan serupa juga akan terus didorong melalui kerja sama dengan BKK. 

Yuyum menilai tantangan ketenagakerjaan saat ini tidak hanya bergantung pada pelaksanaan job fair, tetapi juga pada kemampuan daerah menarik investasi yang dapat membuka lapangan pekerjaan baru.

"Kalau investasinya bertambah, tentu peluang kerja juga akan semakin terbuka," pungkasnya.