Imbas Kenaikan BBM Non Subsidi, Biaya Operasional Armada Pengangkut Sampah Hanya Cukup Sampai September

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kepala DLH PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro. (Foto: Adi Kade/Pusaranmedia.com)
Kepala DLH PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro. (Foto: Adi Kade/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Imbas Kenaikan BBM Non Subsidi, Biaya Operasional Armada Pengangkut Sampah Hanya Cukup Sampai September

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kepala DLH PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro. (Foto: Adi Kade/Pusaranmedia.com)
Kepala DLH PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro. (Foto: Adi Kade/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Imbas Kenaikan BBM Non Subsidi, Biaya Operasional Armada Pengangkut Sampah Hanya Cukup Sampai September 

Kepala DLH PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro. (Foto: Adi Kade/Pusaranmedia.com)

Reporter: Adi Kade | Editor: Bambang Irawan 

PENAJAM - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalokasikan anggaran operasional armada pengangkut sampah di APBD 2026 sebesar Rp1,8 miliar. 

Kepala DLH PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro mengatakan, anggaran operasional armada pengangkut sampah sebesar Rp1,8 miliar dialokasikan pemerintah daerah di APBD untuk kebutuhan selama setahun. 

Namun, adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi menyebabkan pembengkakan kebutuhan anggaran operasional, sehingga anggaran Rp1,8 miliar diperkirakan tidak mencukupi kebutuhan selama setahun. 

Karena, anggaran yang dialokasikan tersebut berdasarkan perhitungan harga BBM non subsidi sebelum adanya kenaikan. 

“Kami perkirakan anggaran operasional armada pengangkut sampah hanya mampu mencukupi hingga bulan September,” kata Kuncoro, Senin (27/7/2026). 

Adanya kenaikan harga BBM non subsidi, kata Kuncoro, DLH PPU terpaksa mengurangi jumlah truk pengangkut sampah yang beroperasi setiap hari. Sebelumnya, armada pengangkut sampah yang beroperasi setiap hari sebanyak 16 unit. Namun, belakangan ini terpaksa dikurangi menjadi 10 unit yang beroperasi setiap hari. 

Hal tersebut dilakukan agar anggaran operasional pengangkutan sampah dari setiap Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Buluminung terus berjalan. 

“Truk pengangkut sampah rata-rata menggunakan BBM jenis Dexlite. Sedangkan pengangkut sampah roda tiga menggunakan Pertamax,” terangnya. 

Kuncoro berharap, pemerintah daerah menambah anggaran operasional armada pengangkut sampah di APBD Perubahan 2026. Jika, tidak mendapatkan tambahan anggaran, diperkirakan layanan pengangkutan sampah akan terhenti. 

“Kami akan usulkan tambahan anggaran di APBD Perubahan. Mudah-mudahan diakomodir supaya pelayanan tetap berjalan lancar hingga akhir tahun anggaran 2026,” pungkasnya.