Skrining HIV di Kutim Baru Capai 34 Persen dari Estimasi 34 Ribu Orang yang Berisiko Tinggi

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Skrining HIV di Kutim Baru Capai 34 Persen dari Estimasi 34 Ribu Orang yang Berisiko Tinggi

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Skrining HIV di Kutim Baru Capai 34 Persen dari Estimasi 34 Ribu Orang yang Berisiko Tinggi 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan

SANGATTA - Cakupan skrining HIV di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) hingga Mei 2026 masih jauh dari target. 

Dari estimasi 23 ribu orang yang masuk kelompok berisiko tinggi, baru sekitar 34 persen yang berhasil menjalani pemeriksaan. 

Kondisi ini menjadi tantangan bagi upaya pengendalian HIV/AIDS di tengah luasnya wilayah dan tingginya mobilitas penduduk.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim mengakui rendahnya cakupan skrining masih menjadi pekerjaan rumah dalam penanggulangan HIV/AIDS. 

Meski demikian, pemerintah daerah terus memperluas akses layanan pemeriksaan dan pengobatan agar lebih mudah dijangkau masyarakat.

Saat ini terdapat 31 fasilitas kesehatan yang melayani pemeriksaan, konseling, hingga terapi HIV/AIDS secara terintegrasi. 

Fasilitas tersebut terdiri atas 21 puskesmas, tiga rumah sakit pemerintah, tujuh rumah sakit swasta, dan satu klinik.

Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan perluasan layanan berdampak pada meningkatnya cakupan terapi Antiretroviral (ARV) bagi Orang dengan HIV (ODHIV) yang kini mencapai 72 persen berdasarkan indikator global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Artinya akses pengobatan sudah meningkat, namun pemeriksaan viral load dan kepatuhan pengobatan masih harus diperkuat agar target nasional dapat tercapai," ujar Yuwana, Senin (27/7/2026).

Meski demikian, sejumlah indikator penanganan HIV masih belum optimal. Capaian pemeriksaan viral load baru mencapai 61 persen, sedangkan tingkat pasien yang berhasil mencapai supresi virus berada di angka 58 persen.

Selain itu, cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi ODHIV baru mencapai 34 persen. 

Menurut Dinkes, rendahnya angka tersebut dipengaruhi keterbatasan pasokan obat, minimnya edukasi bagi tenaga kesehatan, serta tingginya risiko pasien menghentikan pengobatan sebelum selesai atau lost to follow up.

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Dinkes Kutim berhasil menemukan 285 kasus baru ODHIV melalui intensifikasi deteksi dini di berbagai wilayah.

"Hingga Mei 2026 terdapat 285 kasus baru ODHIV yang berhasil ditemukan. Semakin banyak yang teridentifikasi, semakin besar peluang mereka mendapatkan pengobatan," kata Yuwana.

Untuk meningkatkan cakupan skrining, Dinkes Kutim akan memperkuat kolaborasi lintas sektor, mengintegrasikan layanan HIV dengan program kesehatan lainnya, serta mengurangi stigma terhadap ODHIV yang dinilai masih menjadi hambatan masyarakat untuk memeriksakan diri.

Menurut Yuwana, penguatan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) serta pemberdayaan peer educator di komunitas berisiko menjadi strategi penting agar masyarakat dapat mengakses layanan skrining secara lebih mudah dan tanpa rasa takut.