Banner ADV

Disbudpar Berau Ingin Jalur Wisatawan Jadi Pasar Produk Lokal

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Disbudpar Berau Ingin Jalur Wisatawan Jadi Pasar Produk Lokal

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Disbudpar Berau Ingin Jalur Wisatawan Jadi Pasar Produk Lokal

Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Jalur menuju destinasi wisata tak hanya menjadi akses bagi wisatawan, tetapi juga dinilai dapat menjadi pintu masuk bagi produk lokal untuk menembus pasar yang lebih luas.

Inilah yang ingin didorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau dengan mengintegrasikan potensi ekonomi kreatif masyarakat ke dalam sektor pariwisata.

Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa mengatakan sektor pariwisata seharusnya tidak berhenti pada upaya mendatangkan wisatawan ke destinasi. 

Lebih dari itu, pergerakan wisatawan harus mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui pemasaran produk-produk unggulan daerah.

Menurutnya, sejumlah titik yang menjadi jalur dan tempat persinggahan wisatawan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ruang promosi sekaligus pemasaran produk lokal. Rest area, misalnya dapat dikonsep tidak hanya sebagai tempat parkir dan beristirahat, tetapi juga menjadi etalase yang memperkenalkan berbagai produk khas Berau kepada wisatawan.

Gagasan tersebut dinilai relevan dengan potensi Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur, yang berada di jalur perjalanan menuju sejumlah kawasan wisata unggulan Berau. 

Wisatawan yang hendak melanjutkan perjalanan menuju Kepulauan Derawan maupun Maratua dapat melewati kawasan tersebut, sehingga keberadaan produk lokal seperti kopi dapat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan wisatawan.

Potensi tersebut, menurut Yudha, perlu dikembangkan dengan konsep yang lebih terintegrasi. Produk masyarakat tidak hanya diproduksi di tingkat kampung, tetapi juga perlu dipertemukan dengan pasar yang tepat. 

“Dalam hal ini, wisatawan menjadi salah satu pasar potensial yang dapat mengenal, menikmati hingga membawa pulang produk khas Berau sebagai buah tangan,” ucapnya.

Konsep pemasaran produk lokal juga dapat diperluas ke titik-titik transit lainnya, seperti bandara dan dermaga. Wisatawan yang sedang menunggu keberangkatan menuju destinasi wisata dapat diperkenalkan dengan produk unggulan daerah, sehingga ruang tunggu tidak hanya berfungsi sebagai tempat menanti perjalanan, tetapi juga menjadi etalase produk lokal.

“Misalnya di ruang tunggu bandara atau dermaga, ketika wisatawan akan melakukan perjalanan ke Maratua atau destinasi lainnya, kita bisa menyediakan produk khas daerah. Jadi mereka bisa mengenal produk kita dan membawanya pulang,” jelasnya.

Pola tersebut merupakan bagian dari upaya menghubungkan sektor hulu dan hilir. Produksi masyarakat yang terus dikembangkan harus diikuti dengan kesiapan pasar. Sebab, peningkatan produksi tanpa dibarengi akses pemasaran berpotensi membuat produk lokal sulit berkembang secara berkelanjutan.

Untuk itu, ia mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem tersebut. Pemerintah daerah, perangkat daerah terkait, pelaku UMKM, komunitas, hingga pengelola destinasi wisata perlu bersama-sama menyiapkan ruang bagi produk lokal agar dapat masuk ke jalur pariwisata.

Yudha juga melihat peluang untuk memperkenalkan produk lokal melalui berbagai kegiatan pariwisata maupun agenda pemerintah.

Produk masyarakat dapat dijadikan bagian dari suguhan bagi tamu dan wisatawan, sehingga promosi tidak hanya dilakukan melalui penjualan, tetapi juga melalui pengalaman langsung.

“Dengan beberapa kolaborasi seperti itu, kita juga ingin memajukan produksi. Kalau satu atau dua tahun ke depan produksinya semakin meningkat, kita harus sudah memikirkan bagaimana pasarnya,” katanya.

Disbudpar berharap perjalanan wisatawan di Berau tidak hanya berakhir pada kunjungan ke destinasi. Setiap jalur yang dilalui, tempat persinggahan, hingga titik keberangkatan diharapkan dapat menjadi peluang untuk memperkenalkan produk masyarakat. 

Dengan begitu, geliat pariwisata dapat memberikan manfaat yang lebih luas, sekaligus mendorong produk lokal Berau semakin dikenal dan memiliki pasar yang lebih kuat. (Adv)