BI Balikpapan Sebut Kredit Tembus Rp41,51 Triliun, Investasi Jadi Penopang Ekonomi Daerah

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Aktivitas pekerja di proyek pembangunan. Kredit investasi di wilayah kerja KPw BI Balikpapan tumbuh 44,34 persen pada triwulan II 2026. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Aktivitas pekerja di proyek pembangunan. Kredit investasi di wilayah kerja KPw BI Balikpapan tumbuh 44,34 persen pada triwulan II 2026. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

BI Balikpapan Sebut Kredit Tembus Rp41,51 Triliun, Investasi Jadi Penopang Ekonomi Daerah

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Aktivitas pekerja di proyek pembangunan. Kredit investasi di wilayah kerja KPw BI Balikpapan tumbuh 44,34 persen pada triwulan II 2026. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Aktivitas pekerja di proyek pembangunan. Kredit investasi di wilayah kerja KPw BI Balikpapan tumbuh 44,34 persen pada triwulan II 2026. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

BI Balikpapan Sebut Kredit Tembus Rp41,51 Triliun, Investasi Jadi Penopang Ekonomi Daerah 

Aktivitas pekerja di proyek pembangunan. Kredit investasi di wilayah kerja KPw BI Balikpapan tumbuh 44,34 persen pada triwulan II 2026. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Kinerja industri perbankan di wilayah kerja Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Balikpapan terus menunjukkan tren positif pada triwulan II 2026. 

Penyaluran kredit tumbuh tinggi sebesar 17,66 persen (year on year/yoy) menjadi Rp41,51 triliun, mencerminkan optimisme dunia usaha yang masih terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi mengatakan pertumbuhan kredit yang tetap kuat menjadi salah satu penopang penting bagi penguatan ekonomi di wilayah kerja KPw BI Balikpapan yang meliputi Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser.

"Pertumbuhan kredit yang tetap positif dan tinggi menjadi faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, di tengah dinamika perekonomian global yang masih menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik. Hal ini juga menunjukkan optimisme pelaku usaha dan perbankan terhadap prospek ekonomi daerah ke depan," ucap Robi dalam keterangannya, Kamis (30/7/2026).

Menurut Robi, kualitas kredit perbankan juga masih berada pada level yang sehat. 

Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat 2,57 persen, sedikit meningkat dibanding triwulan I 2026 sebesar 2,47 persen, namun masih jauh di bawah ambang batas aman sebesar 5 persen.

Ia menjelaskan, pertumbuhan kredit paling besar berasal dari kredit investasi yang melonjak hingga 44,34 persen (yoy). 

Peningkatan tersebut didorong berlanjutnya investasi pada proyek konstruksi dan hilirisasi industri, termasuk pembangunan tahap II Ibu Kota Nusantara (IKN).

Porsi kredit investasi sendiri mencapai 39,35 persen dari total penyaluran kredit. 

Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 5,95 persen (yoy) berkat daya beli masyarakat yang tetap terjaga, sedangkan kredit modal kerja meningkat 3,78 persen (yoy) seiring masih tingginya kebutuhan modal pelaku usaha.

"Pembiayaan perbankan masih didominasi aktivitas usaha melalui kredit investasi dan modal kerja dengan pangsa mencapai 64,03 persen. Sisanya merupakan kredit konsumsi sebesar 35,97 persen," jelasnya.

Dari sisi lapangan usaha, penyaluran kredit terbesar masih mengalir ke sektor konstruksi dengan pangsa 18,83 persen, diikuti perdagangan sebesar 13,61 persen, dan pertanian sebesar 10,84 persen.

Dominasi tersebut mencerminkan karakteristik ekonomi masing-masing daerah. Kota Balikpapan menjadi pusat perdagangan dan jasa, PPU sebagai lokasi utama pembangunan IKN dengan aktivitas konstruksi yang masif, sedangkan Kabupaten Paser ditopang sektor pertanian.

Bahkan, kredit pada sektor konstruksi melonjak sangat tinggi hingga 176,77 persen (yoy). 

Selain pembangunan IKN tahap II, pertumbuhan tersebut juga ditopang proyek hilirisasi industri yang terus berjalan.

Selain konstruksi, kredit sektor pertambangan tumbuh 50,09 persen (yoy) dan sektor transportasi serta pergudangan meningkat 8,33 persen (yoy) seiring tingginya aktivitas logistik dan distribusi barang.

Di sisi lain, penyaluran kredit kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencapai Rp12,79 triliun, sedikit meningkat dibanding triwulan sebelumnya sebesar Rp12,75 triliun.

Namun secara tahunan, kredit UMKM mengalami kontraksi 0,23 persen (yoy) setelah sebelumnya masih tumbuh 1,1 persen. 

Robi menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari langkah perbankan yang lebih selektif dalam menjaga kualitas pembiayaan.

Hal itu terlihat dari rasio NPL UMKM yang naik menjadi 4,2 persen dari sebelumnya 3,9 persen, meski masih berada di bawah batas aman 5 persen.

"Berbagai program pemerintah daerah, institusi, dan lembaga dalam memperkuat kapasitas serta pemberdayaan UMKM telah berkontribusi menjaga penyaluran kredit kepada sektor ini. Namun perbankan juga tetap memperhatikan kualitas kredit agar tetap sehat," katanya.

Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami peningkatan menjadi Rp49,52 triliun, atau tumbuh 4,15 persen (yoy). 

Kondisi tersebut mencerminkan likuiditas perbankan yang tetap terjaga di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Struktur DPK masih didominasi tabungan sebesar 55,65 persen, disusul giro 28,77 persen, dan deposito 15,58 persen.

Dengan pertumbuhan kredit dan DPK yang sama-sama positif, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 83,82 persen, sedikit meningkat dibanding triwulan I 2026 sebesar 83,62 persen.

Menurut Robi, angka tersebut menunjukkan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan optimal, di mana penghimpunan dana masyarakat mampu diimbangi dengan penyaluran kredit yang produktif.

"Ke depan, Bank Indonesia Balikpapan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan industri perbankan untuk mendorong intermediasi yang optimal dan berkualitas, sehingga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan," pungkasnya.