Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan
SANGATTA – Upaya pencegahan penyebaran HIV di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dinilai perlu dilakukan secara lebih terarah melalui identifikasi terhadap kelompok rentan.
Langkah tersebut dianggap penting untuk menentukan pola pendekatan dan edukasi yang tepat sasaran, sekaligus meminimalkan risiko penularan di masyarakat.
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi mengatakan, penanganan HIV tidak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan imbauan.
Menurutnya, pemerintah juga perlu memahami karakteristik kelompok sasaran agar upaya pencegahan yang dilakukan lebih efektif.
"Ini yang saya bilang tadi susah. Kita hanya menghimbau. Kalau mereka tidak bisa hanya sekadar diimbau, tapi kita harus masuk ke dalam memberikan pemahaman. Maka itu otomatis kita perlu identifikasi," ujarnya.
Mahyunadi menjelaskan, identifikasi tersebut membutuhkan keterlibatan tenaga relawan yang mampu berbaur dengan berbagai kelompok masyarakat.
Relawan diharapkan dapat menjangkau kelompok usia remaja, dewasa hingga orang tua untuk memetakan kebutuhan edukasi dan pendampingan.
"Identifikasi inilah butuh tenaga-tenaga relawan kita yang mampu berbaur dalam kelompok-kelompok mereka. Ada dari beberapa kelompok usia, usia remaja, usia dewasa, dan usia orang tua yang harus kita masukkan," katanya.
Setelah kelompok sasaran teridentifikasi, pemerintah dapat melakukan pendekatan secara personal melalui pemberian pemahaman mengenai perilaku yang berpotensi meningkatkan risiko penularan HIV.
"Kalau sudah kita identifikasi, itu baru bisa kita lakukan pendekatan, kemudian memberikan pemahaman kepada mereka agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang bisa menjurus kepada sumber dari HIV ini," jelasnya.
Selain menyasar kelompok rentan, Mahyunadi menilai peran keluarga tidak kalah penting dalam upaya pencegahan.
Orang tua diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku anak sebagai langkah deteksi dini terhadap berbagai persoalan sosial yang berpotensi muncul.
"Kita sebenarnya itu dilakukan identifikasi, nanti kita lakukan ke orang tuanya, karena orang tuanya yang paling dekat terhadap ini. Kadang-kadang orang tua tidak mengidentifikasi bagaimana perilaku anaknya," ujarnya.
Ia menambahkan, lingkungan pendidikan juga perlu dilibatkan dalam upaya pencegahan HIV.
Menurutnya, guru memiliki peran strategis dalam memberikan pengawasan dan pendampingan kepada peserta didik di sekolah.
"Kita perbaiki di sekolahan, kita juga lakukan pendekatan melalui guru, kemudian di orang tuanya juga kita sampaikan agar anaknya bisa diperhatikan," pungkasnya.


