Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA – Fluktuasi harga ikan yang kerap merugikan nelayan saat musim tangkapan melimpah segera mendapat solusi di Kota Samarinda.
Selama ini, hasil tangkapan laut hanya mampu bertahan beberapa jam tanpa fasilitas penyimpanan, sehingga nelayan sering kali terpaksa menjual ikan dengan harga rendah ketika pasokan di pasar sedang berlimpah.
Kondisi itu diharapkan berubah dengan segera beroperasinya cold storage berkapasitas 120 ton di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Harapan Baru pada pertengahan Agustus 2026.
Fasilitas yang dibangun di Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Loa Janan Ilir tersebut telah rampung bersama bangunan TPI dan sejumlah sarana pendukung lainnya.
Saat ini, pemerintah masih melakukan evaluasi akhir sebelum operasional dimulai.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun mengatakan bahwa pembangunan telah rampung 100 persen.
"Insyaallah mulai minggu kedua Agustus kita sudah mulai operasionalkan," ujar Andi Harun.
Menurutnya, keberadaan cold storage menjadi bagian terpenting dari pembangunan kawasan tersebut. Sebab, ikan hasil tangkapan hanya memiliki masa simpan sekitar enam jam tanpa sistem pendingin.
Akibatnya, nelayan kerap tidak memiliki pilihan selain menjual hasil tangkapannya, meskipun harga di pasaran sedang turun.
Ia mencontohkan kondisi yang selama ini sering terjadi di TPI Selili. Ketika harga ikan di Samarinda sedang tinggi, nelayan dari Balikpapan, Sulawesi, hingga sejumlah daerah lain memilih membawa hasil tangkapannya ke Samarinda.
Namun saat pasokan membludak, harga ikan justru anjlok sehingga nelayan berada dalam posisi yang serba sulit.
"Banyak situasi di mana nelayan bukan lagi mencari keuntungan, tetapi hanya berusaha mengurangi kerugian. Mereka tidak punya pilihan karena ikan harus segera dibongkar dan dijual," jelasnya.
Untuk itu, keberadaan cold storage dinilai mampu meningkatkan posisi tawar nelayan. Ketika harga ikan turun, hasil tangkapan dapat disimpan terlebih dahulu hingga kondisi pasar kembali membaik, tanpa khawatir kualitas ikan menurun.
"Nah sekarang ada cold storage. Kalau harga sedang drop atau ada permainan harga, kita bisa simpan dulu. Penyimpanan ini menciptakan stabilisasi harga dan memastikan stok ikan tetap tersedia," katanya.
Selain memberikan manfaat bagi nelayan, fasilitas tersebut juga diproyeksikan menjadi instrumen pengendalian inflasi daerah.
Dengan stok ikan yang tetap terjaga, pemerintah memiliki ruang lebih besar untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga komoditas perikanan di pasaran.
Cold storage yang dibangun ini memiliki kapasitas penyimpanan hingga 120 ton, sementara TPI dilengkapi sekitar 22 lapak.
Kawasan tersebut juga disiapkan untuk mendukung pengembangan industri hilir perikanan, mulai dari pengemasan (packaging) hingga penjualan ikan segar.
Pembangunan kawasan TPI beserta cold storage dan fasilitas pendukung menghabiskan anggaran sekitar Rp8 miliar.
Anggaran tersebut mencakup pembangunan bangunan utama, fasilitas penyimpanan berpendingin, akses jalan, area parkir, hingga sarana penunjang lainnya.
Menurut Andi Harun, investasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan pelayanan publik di sektor perikanan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi jangka panjang.
Selain menjadi pusat perdagangan ikan yang lebih modern, kawasan ini diharapkan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi Kota Samarinda.
"Kita ingin fasilitas ini memiliki tiga fungsi sekaligus, yakni memberikan pelayanan publik yang lebih baik, menjadi instrumen pengendalian inflasi, dan menghasilkan pendapatan daerah melalui aktivitas ekonomi yang tercipta di kawasan ini," pungkasnya.


