Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin
NUNUKAN — Kawasan perbatasan Kabupaten Nunukan tidak hanya menyimpan persoalan konektivitas dan mobilitas lintas negara. Di balik aktivitas keluar-masuk masyarakat dan pelintas batas, terdapat peluang ekonomi yang dapat dikembangkan melalui sektor pariwisata.
Peluang tersebut menjadi salah satu gagasan yang mengemuka dalam pertemuan SOSEK MALINDO 2026 di Kota Tarakan, di mana dalam Kertas Kerja II, memproyeksikan pembentukan Border Tourism Area atau kawasan pariwisata perbatasan pada tiga koridor strategis, yakni Sebatik–Tawau, Sei Menggaris–Serudong/Kalabakan dan Labang–Bantul.
Konsep tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk menjadikan kawasan perbatasan sebagai tempat persinggahan wisatawan.
Border Tourism Area juga diproyeksikan sebagai sebuah ekosistem pariwisata yang menghubungkan mobilitas lintas batas dengan aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan.
Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Nunukan, Robby Nahak Serang menilai peluang tersebut perlu dibaca sebagai bagian dari strategi pembangunan kawasan perbatasan yang lebih luas.
Menurut Robby, mobilitas masyarakat dan wisatawan yang melewati kawasan perbatasan harus mampu menciptakan nilai ekonomi bagi daerah.
Arus orang yang bergerak dari satu negara ke negara lain tidak boleh berhenti sebatas aktivitas perjalanan, tetapi harus diarahkan agar memberikan dampak terhadap masyarakat yang berada di sekitar jalur perlintasan.
“Tantangannya adalah bagaimana kunjungan lintas batas dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat,” ujar Robby.
Pernyataan tersebut menempatkan pariwisata perbatasan dalam perspektif yang lebih strategis. Sebab, keberadaan wisatawan mancanegara pada dasarnya tidak hanya dapat dihitung dari jumlah kedatangan, tetapi juga dari seberapa besar aktivitas mereka menghasilkan perputaran ekonomi di daerah tujuan.
Peluang pengembangan pariwisata perbatasan Nunukan semakin terbuka apabila melihat perkembangan kunjungan wisatawan mancanegara.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Maret 2026 tercatat 1.411 kunjungan wisatawan mancanegara melalui pintu Imigrasi Nunukan.
Angka tersebut meningkat 41,8 persen dibandingkan Februari 2026. Pada periode yang sama, tingkat penghunian kamar hotel juga tercatat meningkat menjadi 17,50 persen.
Pertumbuhan tersebut menjadi sinyal bahwa mobilitas lintas batas memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi yang lebih produktif.
Namun, terdapat persoalan yang tidak kalah penting. Jumlah kunjungan belum otomatis menunjukkan besarnya manfaat ekonomi yang diterima masyarakat lokal.
Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah lama tinggal wisatawan. Pada Maret 2026, rata-rata lama tinggal wisatawan tercatat sekitar 1,45 hari.
“Angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan pariwisata Nunukan bukan semata-mata mendatangkan wisatawan, melainkan bagaimana membuat mereka memiliki alasan untuk tinggal lebih lama. Di sinilah gagasan Border Tourism Area menjadi relevan,” jelasnya.
Selama ini, kawasan perbatasan lebih banyak dipahami dalam konteks pintu masuk dan keluar orang serta barang. Padahal, kawasan perbatasan memiliki karakteristik sosial, budaya, ekonomi, dan geografis yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
“Sebatik misalnya, memiliki karakter sebagai kawasan pulau yang secara geografis berhadapan langsung dengan Malaysia. Hubungan sosial dan ekonomi masyarakat lintas batas yang telah berlangsung lama dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang memiliki nilai tersendiri,” ujarnya.
Sementara koridor Sei Menggaris–Serudong Kalabakan dapat dikembangkan dengan pendekatan yang menghubungkan potensi alam, kehidupan masyarakat perbatasan, serta aktivitas lintas negara.
Adapun Labang–Bantul dapat diproyeksikan sebagai koridor lain yang memiliki karakteristik tersendiri dalam pengembangan wisata perbatasan.
Ketiga koridor tersebut tidak harus dikembangkan dengan pendekatan yang seragam. Masing-masing dapat memiliki identitas, produk wisata dan karakter pengalaman yang berbeda.
Dengan pendekatan tersebut, wisatawan tidak hanya melewati kawasan perbatasan, tetapi memiliki alasan untuk berhenti, berinteraksi, menginap dan membelanjakan uangnya di daerah setempat.
Robby menilai keberhasilan pengembangan pariwisata perbatasan pada akhirnya harus dilihat dari dampaknya terhadap masyarakat.
Wisatawan yang datang ke Nunukan idealnya tidak berhenti pada aktivitas transit sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah lain.
Mereka perlu diarahkan untuk menggunakan berbagai layanan ekonomi lokal. Mulai dari jasa transportasi, akomodasi, kuliner, pemandu wisata, hingga produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Jika ekosistem tersebut terbentuk, maka setiap kedatangan wisatawan akan menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang.
Satu wisatawan yang menginap misalnya, tidak hanya memberikan pemasukan kepada hotel.
Ia juga berpotensi menggunakan transportasi lokal, makan di restoran atau warung masyarakat, membeli oleh-oleh dan menggunakan jasa pemandu, serta mengunjungi destinasi wisata.
“Perspektif tersebut penting karena pembangunan pariwisata perbatasan tidak seharusnya hanya mengejar peningkatan statistik kunjungan. Terpenting adalah meningkatkan nilai ekonomi dari setiap kunjungan,” pungkasnya.


