Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA - Memasuki puncak musim kemarau, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat di Kota Samarinda.
Setelah nihil kejadian sepanjang Juni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 11 kasus karhutla terjadi selama Juli 2026.
Mayoritas peristiwa dipicu aktivitas manusia, mulai dari membakar sampah hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan.
Kepala BPBD Samarinda, Suwarso, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi perubahan cuaca yang semakin kering.
Meski demikian, Samarinda sempat diuntungkan karena hujan masih turun pada Juni sehingga mampu menekan risiko kebakaran.
"BMKG menyampaikan tahun ini merupakan kemarau yang cukup kering sehingga hampir semua daerah memiliki potensi kebakaran. Juli ada sekitar 11 kejadian," ujar Suwarso.
Ttitik kebakaran tersebar di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Samarinda Ulu, Palaran, dan beberapa kawasan di wilayah Samarinda Utara.
Dari hasil evaluasi BPBD, sebagian besar kebakaran bukan disebabkan faktor alam, melainkan dipicu aktivitas manusia, mulai dari membakar sampah, membakar lahan hingga puntung rokok yang dibuang di semak kering.
Untuk itu, BPBD terus memperkuat langkah mitigasi dengan memetakan kawasan rawan karhutla, terutama lahan gambut dan semak belukar. Koordinasi juga dilakukan bersama TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), hingga para relawan kebencanaan.
Menurut Suwarso, keberadaan Kelurahan Tangguh Bencana, Taruna Siaga Bencana, serta relawan di tingkat kelurahan menjadi ujung tombak penanganan awal sehingga sebagian besar kebakaran dapat dipadamkan sebelum meluas.
Kebakaran terbesar selama Juli terjadi di kawasan Bantuas dengan luas sekitar dua hektare. Luasnya area yang terbakar dipengaruhi lokasi yang jauh dari permukiman, medan perbukitan, serta keterbatasan sumber air sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu sekitar tiga jam.
"Yang lain rata-rata skalanya kecil, sekitar 200 sampai 500 meter persegi. Yang terbesar memang di Bantuas karena aksesnya sulit dan sumber air terbatas," katanya.
BPBD kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan maupun membakar sampah selama musim kemarau. Selain itu, warga diminta memanfaatkan tempat pembuangan sampah yang telah tersedia dan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sebelum meluas.
"Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran dalam bentuk apa pun," pungkasnya.


