Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB - Dinas Perikanan Kabupaten Berau mulai menggeser arah pembangunan sektor perikanan dari sekadar pemasok ikan segar menjadi daerah yang mampu menghasilkan produk olahan bernilai tinggi.
Melalui Program Hilir Berau, pemerintah daerah menargetkan lahirnya industri pengolahan hasil laut yang mampu meningkatkan daya saing sekaligus memperbesar manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Program ini dirancang untuk mempercepat hilirisasi komoditas perikanan. Salah satu fokus utamanya ialah pengembangan produk ikan kaleng premium sebagai langkah mengoptimalkan potensi hasil tangkapan yang selama ini sebagian besar masih dipasarkan dalam kondisi segar.
Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid menjelaskan, besarnya produksi perikanan Berau belum diikuti dengan perkembangan industri pengolahan. Padahal, potensi sumber daya perikanan daerah mencapai sekitar 104.915 ton per tahun, sementara hasil olahan baru menyentuh 3.779 ton atau sekitar 3,6 persen dari total potensi yang tersedia.
“Kondisi ini menunjukkan masih besarnya peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah sektor perikana,” ucapnya.
Ia menyampaikan, pemerintah ingin mengubah pola pemanfaatan hasil laut agar tidak hanya berhenti pada penjualan bahan baku. Penguatan industri pengolahan dinilai menjadi langkah strategis untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi, memperluas pasar, sekaligus meningkatkan daya saing perikanan Berau di tingkat regional maupun nasional.
Selain mendorong tumbuhnya industri, Program Hilir Berau juga diarahkan memperkuat peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang pengolahan hasil perikanan. Berdasarkan proyeksi yang disusun, hilirisasi berpotensi meningkatkan nilai ekonomi komoditas hingga 3,62 kali lipat atau sekitar 262 persen dibandingkan penjualan ikan dalam bentuk mentah. Pendapatan UMKM pengolahan pun diperkirakan dapat naik dari rata-rata Rp8 juta menjadi sekitar Rp29 juta setiap bulan.
Tak hanya berdampak pada pelaku usaha, hilirisasi juga dipandang mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.
“Melalui pengembangan industri pengolahan, kami optimistis akan terbuka peluang investasi baru, lapangan kerja semakin luas, dan rantai usaha perikanan dari hulu hingga hilir menjadi semakin kuat,” ujarnya.
Dukungan terhadap langkah tersebut juga datang dari Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy. Ia menilai, penguatan hilirisasi merupakan tahapan penting sebelum membangun industri perikanan dalam skala yang lebih besar.
“Saya berharap Program Hilir Berau terus dilanjutkan sebagai program jangka panjang, bukan hanya sebatas proyek perubahan,” tambahnya.
Menurut Irhan, apabila seluruh tahapan hilirisasi berjalan konsisten, potensi perikanan Berau yang melimpah dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi baru. Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, langkah tersebut juga diyakini akan memperkuat posisi Kabupaten Berau sebagai salah satu sentra perikanan unggulan di Kalimantan Timur. (Adv)



