Sekolah Rakyat Samarinda Petakan Kemampuan Lewat Asesmen, Siswa tidak Ditempatlan di Kelas Berdasarkan Umur

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda jenjang SD, Pahrijal. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda jenjang SD, Pahrijal. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Sekolah Rakyat Samarinda Petakan Kemampuan Lewat Asesmen, Siswa tidak Ditempatlan di Kelas Berdasarkan Umur

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda jenjang SD, Pahrijal. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda jenjang SD, Pahrijal. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Sekolah Rakyat Samarinda Petakan Kemampuan Lewat Asesmen, Siswa tidak Ditempatlan di Kelas Berdasarkan Umur

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda jenjang SD, Pahrijal. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan

SAMARINDA - Hari-hari pertama di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Samarinda tidak langsung diisi kegiatan belajar mengajar. Selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), seluruh siswa baru terlebih dahulu menjalani asesmen untuk memetakan kemampuan akademik dan kondisi kesehatan mereka. 

Langkah ini dilakukan agar setiap anak memperoleh pembelajaran sesuai kemampuan, bukan semata berdasarkan usia.
Kepala SRT 2 Samarinda Jenjang SD, Pahrijal, mengatakan pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa MPLS di Sekolah Rakyat berlangsung selama 16 hari, lebih lama dibanding sekolah reguler.

Menurutnya, asesmen diperlukan karena latar belakang siswa sangat beragam. Tidak sedikit anak yang sebelumnya putus sekolah, bahkan ada yang belum pernah mengenyam pendidikan formal.

"Ada anak yang usianya sudah 12 tahun tetapi belum pernah sekolah. Kami tidak bisa langsung menempatkannya ke kelas berdasarkan umur. Harus diasesmen dulu, apakah sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung," jelas Pahrijal.

Hasil asesmen tersebut akan menjadi dasar guru menentukan jenjang belajar yang paling sesuai. Apabila kemampuan akademik siswa dinilai sudah memenuhi, sekolah dapat menempatkannya pada kelas yang lebih tinggi meski sebelumnya belum pernah bersekolah secara formal.

Selain asesmen akademik, seluruh siswa juga menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG) selama MPLS. Pemeriksaan meliputi tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, hingga kondisi gizi yang nantinya menjadi data dasar untuk memantau perkembangan kesehatan siswa setiap bulan.

Pahrijal menjelaskan, proses tersebut juga menjadi bagian dari upaya pencegahan stunting yang terus dipantau selama anak menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat.
Tak hanya itu, guru juga memetakan siswa yang masih mengalami kesulitan membaca, menulis, maupun berhitung agar mendapatkan pendampingan khusus. Pembinaan dilakukan melalui kolaborasi antara guru di sekolah dan wali asuh di asrama.

"Banyak anak yang masih belum bisa membaca. Jadi guru mengajarkan di sekolah, kemudian wali asuh melanjutkan pendampingannya di asrama," katanya.

Menurutnya, konsep pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya berorientasi pada pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga memastikan setiap anak memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Dengan cara itu, proses belajar diharapkan berjalan lebih efektif sekaligus membantu anak-anak yang sebelumnya tertinggal mengejar ketertinggalannya.

"Kami ingin kemampuan mereka berkembang lebih cepat," pungkasnya.