Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA - Hingga 3 Agustus 2026, 31 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Kota Samarinda.
Peristiwa itu sebagian besar masih didominasi oleh aktivitas manusia yang dianggap sepele. Mulai dari membuang puntung rokok sembarangan hingga membakar sampah, berbagai tindakan tersebut menjadi pemicu munculnya puluhan titik api selama musim kemarau tahun ini.
Berdasarkan data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda hingga tercatat total luas lahan terbakar mencapai 13,97 hektare dari 31 kejadian.
Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan sebagian besar kebakaran bukan disebabkan faktor alam semata, melainkan dipicu kelalaian masyarakat saat beraktivitas di lahan terbuka.
"Ada yang diduga karena orang memancing lalu membuang puntung rokok di semak atau rumput ilalang hingga terbakar. Ada juga yang membakar sampah, kemudian apinya merembet dan meluas," kata Suwarso.
Ia mencontohkan dugaan penyebab kebakaran di kawasan Bukit Pinang yang disinyalir berawal dari puntung rokok yang dibuang ke area ilalang kering. Selain itu, kebakaran juga pernah dipicu aktivitas pembakaran sampah di kawasan Jalan Nusyirwan Ismail yang akhirnya menjalar ke lahan di sekitarnya.
Karena itu, BPBD kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan maupun mengelola sampah dengan cara dibakar, terutama saat cuaca panas dan kondisi vegetasi mulai mengering.
Ia juga mengimbau warga untuk memilah sampah yang masih memiliki nilai ekonomis, sedangkan sampah lainnya dibuang ke tempat penampungan sementara (TPS) yang telah disediakan pemerintah.
Selain itu, peran RT, lurah, hingga camat dinilai penting untuk terus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan pertanian dan perkebunan.
Menurutnya, kondisi cuaca panas yang disertai embusan angin juga menjadi faktor yang mempercepat penyebaran api.
Meski demikian, BPBD menilai penanganan awal di tingkat kelurahan sudah cukup efektif. Keberadaan Kelurahan Tangguh Bencana dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) mampu mempercepat pemadaman sebelum api membesar.
Dari 31 kejadian tersebut, Kecamatan Samarinda Ulu dan Sambutan menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, masing-masing tujuh kejadian. Disusul Palaran sebanyak lima kejadian, Sungai Pinang dan Samarinda Utara masing-masing empat kejadian, Sungai Kunjang tiga kejadian, serta Loa Janan Ilir satu kejadian.
BPBD berharap meningkatnya kewaspadaan masyarakat dapat menekan jumlah karhutla selama puncak musim kemarau, sehingga kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
"Pada kondisi seperti sekarang, masyarakat diwajibkan tidak membuka lahan dengan cara dibakar," pungkasnya.


