Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin
TENGGARONG - Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kutai Kartanegara (Kukar) meninjau langsung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sebulu Ulu, Kecamatan Sebulu, Selasa (4/8/2026).
Peninjauan dilakukan setelah puluhan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami gangguan kesehatan usai menyantap makanan yang dibagikan sehari sebelumnya.
Langkah tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut atas dugaan keracunan makanan yang terjadi pada Senin (3/8/2026).
Selain memberikan pelayanan medis kepada para pasien, tim juga melaksanakan penyelidikan epidemiologi dan mengamankan sampel makanan untuk diuji di laboratorium Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Kepala Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Mufida menegaskan, instansinya berfokus pada aspek penanganan kesehatan para korban.
Sementara mengenai operasional SPPG, menurutnya bukan menjadi kewenangan Dinkes. “Perlu dipahami dulu, urusan SPPG bukan kewenangan bidang kesehatan. Jadi kalau ditanya bagaimana SPPG-nya, itu bukan ranah saya. Tapi yang menjadi kewenangan kami adalah penanganan kesehatannya,” ujarnya.
Ismi menerangkan, pasien pertama tiba di Puskesmas Sebulu I sekitar pukul 09.14 WITA. Setelah itu jumlah pasien terus bertambah hingga malam hari dan masih berlanjut pada keesokan harinya.
“Memang kemarin terjadi dugaan keracunan makanan pada anak-anak sekolah, termasuk juga penerima di posyandu di Kecamatan Sebulu. Sampai hari ini, tercatat sekitar 85 pasien. Sebanyak 82 orang menjalani rawat jalan, sedangkan tiga orang dirawat inap,” katanya.
Ia memastikan seluruh pasien telah memperoleh penanganan medis sesuai prosedur yang berlaku.
“Obat-obatan maupun cairan infus yang dibutuhkan tersedia dan mencukupi. Gejalanya khas keracunan makanan, seperti mual, ada beberapa yang muntah, tetapi secara umum kondisinya tidak berat dan masih bisa diajak berkomunikasi,” jelas Ismi.
Lebih lanjut, Dinkes telah mengamankan dua paket makanan utuh untuk dijadikan sampel pemeriksaan. Investigasi tidak hanya berfokus pada makanan, tetapi juga mencakup bahan baku, proses pengolahan hingga pemeriksaan terhadap petugas dapur.
“Saya belum bisa menyimpulkan makanan yang mana sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar. Jangan sampai nanti menyesatkan. Meski banyak yang menyebut pentol, belum tentu itu penyebabnya. Ada yang makan pentol tidak mengalami gejala, ada juga yang mengalami gejala. Jadi kami menunggu hasil laboratorium,” tegasnya.
Menurut Ismi, proses pemeriksaan laboratorium di BPOM diperkirakan memerlukan waktu sekitar dua pekan. Hasil resmi nantinya akan diumumkan kepada masyarakat setelah seluruh rangkaian investigasi selesai.
Kepala SPPG Sebulu Ulu Yayasan Wadah Lumbung Inklusi, Rahmatullah Ananda Putra menyampaikan operasional dapur MBG untuk sementara dihentikan sambil menunggu hasil pendalaman dan arahan dari pimpinan.
“Untuk hari ini kami tidak beroperasi karena masih menyelesaikan penanganan terkait kejadian kemarin. Kami masih menunggu hasil pendalaman dan pengumpulan data. Setelah itu baru menunggu arahan lebih lanjut dari pimpinan,” katanya.
Rahmatullah mengungkapkan, pada hari kejadian pihaknya menyiapkan sebanyak 1.834 porsi makanan yang kemudian didistribusikan ke sejumlah sekolah penerima manfaat. Sebelum makanan dikirim, seluruh prosedur pemeriksaan sesuai standar operasional telah dilaksanakan.
“Kami mengikuti SOP yang berlaku. Di sini dilakukan pengecekan organoleptik terlebih dahulu, setelah itu baru didistribusikan. Di sekolah juga ada PIC sekolah yang ikut mencicipi sebelum makanan dibagikan,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya masih terus mengumpulkan data dan mendalami hasil pemeriksaan di lapangan, termasuk menerima laporan dari sekolah-sekolah penerima manfaat.
Ia juga memastikan seluruh bahan baku yang digunakan dipasok setiap hari agar tetap dalam kondisi segar.
“Untuk bahan baku kami restock setiap hari, jadi selalu baru dan tidak disimpan lama. Pentol juga kami buat sendiri, bukan produk frozen,” ungkapnya.
Salah seorang orang tua siswa SDN 003 Sebulu, Nur Helva (45) mengatakan kondisi anaknya kini mulai membaik setelah sempat mengalami mual, muntah, pusing dan sakit perut usai mengonsumsi makanan MBG.
“Anak saya baru makan satu butir pentol, katanya rasanya tidak enak, lalu langsung dimuntahkan. Setelah itu langsung muntah, pusing, dan sakit perut,” tuturnya.
Meski sempat terjadi insiden tersebut, Nur Helva mengaku tidak berharap Program MBG dihentikan. Ia hanya meminta agar kualitas makanan dan sistem pengawasan ditingkatkan sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Saya tidak menuntut program MBG dihentikan. Silahkan saja kalau memang mau dilanjutkan. Tapi tolong lebih teliti lagi, terutama soal gizinya. Sebelum makanan disajikan ke anak-anak harus benar-benar dipastikan layak atau tidak untuk dikonsumsi,” ujarnya.
Ia juga berharap variasi menu dan kualitas bahan makanan menjadi perhatian ke depan.
“Saya harapkan dari dapur MBG itu menunya diperbaiki, lebih bervariasi dan makanannya benar-benar dalam kondisi segar,” pungkasnya.


