Inflasi Balikpapan Melandai, Kenaikan Harga Pangan Dampak Kenaikan BBM Berhasil Diredam

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Ilustrasi pembelian BBM di salah satu SPBU Balikpapan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Ilustrasi pembelian BBM di salah satu SPBU Balikpapan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Inflasi Balikpapan Melandai, Kenaikan Harga Pangan Dampak Kenaikan BBM Berhasil Diredam

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Ilustrasi pembelian BBM di salah satu SPBU Balikpapan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Ilustrasi pembelian BBM di salah satu SPBU Balikpapan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Inflasi Balikpapan Melandai, Kenaikan Harga Pangan Dampak Kenaikan BBM Berhasil Diredam 

Ilustrasi pembelian BBM di salah satu SPBU Balikpapan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Tekanan inflasi di Kota Balikpapan mulai mereda pada Juli 2026. Meski kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi masih menjadi penyumbang utama inflasi, penurunan harga sejumlah komoditas pangan strategis berhasil menahan laju kenaikan harga sehingga inflasi tetap terkendali.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi mengatakan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kota Balikpapan maupun Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Juli 2026 masih mencatat inflasi, namun lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

"Tekanan harga semakin mereda dan semakin terkendali. Berbagai upaya stabilisasi harga yang dilaksanakan TPID Balikpapan dan TPID Penajam Paser Utara mampu memberikan dampak terhadap penurunan harga sejumlah komoditas pangan strategis," ucap Robi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut didukung kelancaran pasokan dan distribusi, terjaganya stok pangan strategis, serta semakin kuatnya sinergi antara BI, pemerintah daerah, dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). 

Program Gerakan Pangan Murah (GPM), pasar murah, hingga operasi pasar yang digelar sepanjang Juli juga dinilai efektif menjaga keterjangkauan harga di tengah masih tingginya permintaan masyarakat.

Pada Juli 2026, Kota Balikpapan mencatat inflasi bulanan sebesar 0,25 persen (month to month/mtm), sedangkan Kabupaten PPU sebesar 0,28 persen (mtm). 

Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat 3,06 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding inflasi nasional sebesar 2,88 persen (yoy). Sementara inflasi tahunan PPU sebesar 2,34 persen (yoy), masih berada di bawah inflasi nasional.

Meski demikian, inflasi tahunan kedua daerah tersebut masih lebih rendah dibanding gabungan empat kota di Kalimantan Timur yang mencapai 3,31 persen (yoy), serta masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional tahun 2026 sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Robi menjelaskan, inflasi di Balikpapan terutama dipicu kelompok transportasi dengan andil sebesar 0,31 persen (mtm). 

Lima komoditas penyumbang inflasi terbesar yakni bensin, pelumas atau oli mesin, bakso siap santap, biaya pemeliharaan atau servis kendaraan, serta sawi hijau.

Kenaikan harga bensin dipengaruhi penyesuaian harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.650 per liter sejak 10 Juni 2026 dari sebelumnya Rp12.600 per liter. 

Sementara kenaikan harga pelumas dipicu masih tingginya harga base oil sebagai bahan baku utama, disusul meningkatnya biaya produksi.

Adapun kenaikan harga bakso siap santap dipengaruhi meningkatnya harga bahan baku dan biaya operasional usaha. Tarif servis kendaraan ikut naik akibat mahalnya suku cadang dan bahan pendukung, termasuk pelumas. 

Sementara harga sawi hijau terdorong naik karena pasokan yang terbatas akibat curah hujan yang masih tinggi sehingga memengaruhi produksi.

Di sisi lain, penurunan harga sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama yang meredam dampak kenaikan BBM terhadap inflasi. 

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,15 persen (mtm).

Lima komoditas penyumbang deflasi terdalam di Balikpapan adalah cabai rawit, tomat, emas perhiasan, bawang merah, dan angkutan udara.

Robi mengatakan turunnya harga cabai rawit, tomat, dan bawang merah didorong meningkatnya pasokan seiring masuknya masa panen di sejumlah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi. 

Sementara tarif angkutan udara turun setelah penurunan harga avtur sebesar 14 persen mulai 1 Juli 2026. Adapun harga emas perhiasan ikut terkoreksi akibat melemahnya permintaan global.

Sementara itu di Kabupaten PPU, inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,11 persen (mtm). 

Komoditas penyumbang inflasi terbesar meliputi daging ayam ras, ikan tongkol, ikan layang, bensin, dan bahan bakar rumah tangga.

Kenaikan harga daging ayam dipengaruhi terbatasnya pasokan dari Jawa dan daerah sekitar PPU serta meningkatnya harga pakan. Sementara ikan tongkol dan ikan layang naik akibat hasil tangkapan nelayan berkurang karena gelombang laut yang tinggi.

Di sisi lain, komoditas cabai rawit, tomat, buncis, jagung manis, dan kacang panjang menjadi penyumbang deflasi di PPU karena pasokan meningkat dari sentra produksi lokal maupun luar daerah.

Meski inflasi saat ini terkendali, Robi mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko pada semester II 2026. 

Musim kemarau dan potensi El Nino yang lebih kuat diperkirakan dapat memengaruhi produksi pertanian di Pulau Jawa sebagai daerah pemasok utama pangan ke Balikpapan, PPU, dan Paser.

Selain itu, meningkatnya kebutuhan pangan seiring percepatan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga berpotensi menambah tekanan terhadap permintaan pangan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BI Balikpapan bersama pemerintah daerah melalui TPID akan terus memperkuat pengendalian inflasi melalui rapat koordinasi rutin, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah, pasar murah, operasi pasar, hingga penyelenggaraan TANI CAMP 2026 yang diawali dengan penyerahan bibit cabai, tomat, dan terong pada 28 Juli 2026.

"Ke depan, Kantor Perwakilan BI Balikpapan akan terus membangun sinergi dengan berbagai pihak dalam wadah TPID untuk mendorong implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) secara konsisten agar inflasi daerah tetap berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen," pungkasnya.