Mangrove Jadi Syarat Utama Pengembangan Wisata Pesisir di Kutim

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Suasana usai penanaman mangrove di Kutai Timur. (Foto: Dok Seputar Fakta)
Suasana usai penanaman mangrove di Kutai Timur. (Foto: Dok Seputar Fakta)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Mangrove Jadi Syarat Utama Pengembangan Wisata Pesisir di Kutim

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Suasana usai penanaman mangrove di Kutai Timur. (Foto: Dok Seputar Fakta)
Suasana usai penanaman mangrove di Kutai Timur. (Foto: Dok Seputar Fakta)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Mangrove Jadi Syarat Utama Pengembangan Wisata Pesisir di Kutim

Suasana usai penanaman mangrove di Kutai Timur. (Foto: Dok Seputar Fakta)

Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin 

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) menegaskan pengembangan kawasan wisata pesisir tidak boleh mengorbankan kelestarian hutan mangrove. 

Keberadaan ekosistem tersebut dinilai menjadi penyangga utama kawasan pantai sekaligus berperan penting dalam menjaga kualitas lingkungan.

Ini disampaikan Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman saat menghadiri Gerakan Penanaman Mangrove di kawasan Pantai Teluk Lingga, Kecamatan Sangatta Utara, Rabu (5/8/2026).

Ardiansyah mengatakan Kutim memiliki salah satu kawasan hutan mangrove terluas di Kalimantan Timur (Kaltim) yang hingga kini masih terjaga di sepanjang garis pantai. 

Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting bagi daerah dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis lingkungan.

"Kita bersyukur salah satu hutan mangrove terbesar di Kalimantan Timur ada di Kutim. Kita memiliki garis pantai yang cukup panjang dan sampai saat ini hutan mangrovenya masih terjaga," katanya.

Menurutnya, pembangunan destinasi wisata di wilayah pesisir tetap dapat dilakukan tanpa menghilangkan fungsi ekologis mangrove. 

Ia menegaskan pembukaan kawasan wisata tidak boleh dilakukan dengan penebangan mangrove secara masif.

"Meski di satu sisi kita memanfaatkan wilayah tersebut sebagai pusat pariwisata, tetapi kita tidak akan membabat hutan mangrove secara membabi buta. Hutan mangrove tetap menjadi salah satu tolok ukur lingkungan hidup yang bisa berdampingan dengan pariwisata," ujarnya.

Selain berfungsi menahan abrasi pantai, Ardiansyah menyebut hutan mangrove juga memiliki manfaat ekonomi. 
Sejumlah jenis mangrove dapat diolah menjadi berbagai produk, termasuk bahan pangan dan produk kesehatan yang berpotensi meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat.

Ia juga menyoroti peran mangrove dalam menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen sehingga menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

"Kita berharap meskipun pantai dimanfaatkan sebagai kawasan wisata, keasrian lingkungan tetap terjaga karena hutan mangrove memberikan kontribusi besar menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida," ucapnya.

Ardiansyah menambahkan keseimbangan antara aktivitas industri dan pelestarian kawasan hijau perlu terus dijaga. Sebab, keberadaan hutan menjadi penyangga kualitas udara di tengah berkembangnya sektor industri di Kutim.

"Di satu sisi kita memiliki aktivitas industri yang berpotensi menghasilkan debu, tetapi di sisi lain kita juga memiliki hutan yang menghasilkan oksigen. Keduanya harus kita jaga agar lingkungan tetap sehat," katanya.

Ia turut menyinggung pengakuan internasional terhadap potensi penyimpanan karbon di Kaltim. Sebab, potensi tersebut menjadi alasan penting untuk terus menjaga kelestarian kawasan mangrove, termasuk di Pantai Teluk Lingga.

"Untuk itu, kita berharap kondisi lingkungan dan keasrian Pantai Teluk Lingga tetap terjaga," pungkasnya.