Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BALIKPAPAN - Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Balikpapan terus memperkuat upaya pengendalian inflasi melalui pengembangan usaha budidaya ayam petelur.
Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan produksi telur lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar Kalimantan Timur (Kaltim).
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi mengatakan penguatan ketahanan pangan menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Menurutnya, BI tidak hanya berperan menjaga stabilitas nilai rupiah, tetapi juga mendukung pengendalian inflasi melalui penguatan sektor riil, khususnya komoditas pangan strategis.
"Ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Sebagai bank sentral, Bank Indonesia tidak hanya berperan menjaga stabilitas nilai rupiah, melainkan juga secara aktif mendukung pengendalian inflasi daerah melalui penguatan sektor riil, khususnya peningkatan kapasitas produksi komoditas pangan strategis," kata Robi dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).
Ia menjelaskan, telur ayam merupakan salah satu komoditas yang mempengaruhi perkembangan inflasi di Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser.
Untuk itu, peningkatan kapasitas produksi lokal menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga.
Ia mengaku selama ini, kebutuhan telur ayam di Kaltim masih sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah. Kondisi tersebut menjadi tantangan yang perlu diatasi melalui penguatan produksi lokal.
Sebagai bentuk dukungan, KPwBI Balikpapan bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Kaltim memfasilitasi sarana dan prasarana budidaya ayam petelur kepada pondok pesantren dan kelompok usaha terpilih. Program tersebut juga diarahkan untuk mendorong kemandirian ekonomi pesantren.
Untuk memastikan usaha budidaya ayam petelur dikelola secara profesional dan berkelanjutan, BI Balikpapan menggandeng Baznas Kaltim, pemerintah daerah Balikpapan, PPU dan Paser, serta akademisi dan praktisi peternakan menyelenggarakan Workshop Pengelolaan Usaha Budidaya Ayam Petelur 2026.
Workshop yang berlangsung pada 3-8 Agustus 2026 itu diikuti pondok pesantren dan kelompok usaha dari Balikpapan, PPU, dan Paser.
Kegiatan diawali dengan pembelajaran klasikal di KPwBI Balikpapan, kemudian dilanjutkan praktik lapangan di Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Selama enam hari, peserta mendapatkan materi mulai dari prospek bisnis ayam petelur, manajemen kandang, formulasi pakan, pengendalian penyakit ternak, hingga penyusunan rencana bisnis dan strategi pemasaran.
Peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke usaha ayam petelur yang telah berhasil berkembang di Balikpapan.
Menurut Robi, melalui workshop tersebut peserta diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan teknis dalam membudidayakan ayam petelur, tetapi juga mampu mengembangkan usaha yang produktif, profesional, dan berkelanjutan.
"Melalui peningkatan kapasitas produksi lokal, kami berharap ketahanan pangan daerah semakin kuat, pasokan telur lebih terjamin, inflasi dapat terkendali, sekaligus mendorong lahirnya pelaku usaha peternakan yang tangguh dan berdaya saing," pungkasnya.


