Ajang FKAT 2026 Jadi Panggung Diplomasi Budaya Indonesia dan Promosi UMKM Kaltara

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Penampilan Sanggar Tari Sari Art Project asal Nunukan di FKAT 2026 di Tawau. (Foto: KRI Tawau)
Penampilan Sanggar Tari Sari Art Project asal Nunukan di FKAT 2026 di Tawau. (Foto: KRI Tawau)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Ajang FKAT 2026 Jadi Panggung Diplomasi Budaya Indonesia dan Promosi UMKM Kaltara

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Penampilan Sanggar Tari Sari Art Project asal Nunukan di FKAT 2026 di Tawau. (Foto: KRI Tawau)
Penampilan Sanggar Tari Sari Art Project asal Nunukan di FKAT 2026 di Tawau. (Foto: KRI Tawau)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Ajang FKAT 2026 Jadi Panggung Diplomasi Budaya Indonesia dan Promosi UMKM Kaltara

Penampilan Sanggar Tari Sari Art Project asal Nunukan di FKAT 2026 di Tawau. (Foto: KRI Tawau)

Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan 

NUNUKAN – Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau kembali memanfaatkan Festival Kebudayaan Antarabangsa Tawau (FKAT) 2026 sebagai panggung diplomasi budaya untuk memperkuat citra Indonesia sekaligus mempromosikan potensi pariwisata dan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Kalimantan Utara di Malaysia.

Festival budaya internasional yang berlangsung di Tawau, Sabah, Malaysia, itu mempertemukan peserta dari berbagai negara dan komunitas etnik dalam satu ruang interaksi budaya. Tahun ini, Indonesia hadir bersama tiga negara undangan lainnya, yakni Kamboja, Uzbekistan dan Kazakhstan.

Kepala Konsulat RI Tawau, Dino Nurwahyudin, mengatakan keikutsertaan Indonesia dalam FKAT bukan sekadar menampilkan kesenian, melainkan menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan masyarakat kedua negara melalui jalur diplomasi budaya.

"Festival ini merupakan momentum strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya, potensi pariwisata, serta produk unggulan Indonesia kepada masyarakat Sabah dan pengunjung internasional. Kami ingin membangun pemahaman yang lebih baik tentang Indonesia sekaligus mempererat hubungan masyarakat Indonesia dan Malaysia," ujar Dino.

Melalui stan pameran Indonesia, KRI Tawau menyajikan beragam informasi mengenai destinasi wisata, keragaman budaya, hingga potensi ekonomi nasional. Pengunjung juga diajak mengikuti Survei Citra Indonesia sebagai bagian dari upaya mengukur persepsi masyarakat terhadap Indonesia sekaligus menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan program promosi di masa mendatang.

Tak hanya mengedepankan promosi budaya, KRI Tawau juga menggandeng pelaku UMKM asal Provinsi Kalimantan Utara untuk memperkenalkan berbagai produk unggulan daerah kepada pasar Sabah.

Menurut Dino, langkah tersebut diharapkan mampu membuka peluang kemitraan bisnis sekaligus memperluas akses pemasaran produk lokal Indonesia di wilayah Malaysia Timur.

"Kami ingin UMKM dari daerah perbatasan memiliki kesempatan lebih luas untuk menembus pasar internasional. Festival seperti ini menjadi ruang yang efektif untuk memperkenalkan kualitas produk Indonesia sekaligus menjajaki peluang kerja sama dengan mitra usaha di Sabah," katanya.

FKAT 2026 juga diikuti sekitar 30 komunitas etnik yang menampilkan kekayaan budaya dan tradisi masing-masing melalui rumah-rumah etnik. Pada peresmian Pameran Rumah Etnik, Wakil Menteri Pelancongan, Kebudayaan, dan Alam Sekitar Sabah, YB Dr Andi Md Shamsureezal bin Mod Sainal, berkesempatan mengunjungi stan Indonesia yang dikelola KRI Tawau.

Dalam ajang tersebut, komunitas Bugis berhasil meraih juara pertama lomba menghias kemah etnik, disusul komunitas Toraja di posisi kedua dan Mandar di peringkat ketiga.

Puncak festival ditutup dengan penampilan seni budaya dari berbagai negara peserta. Indonesia diwakili Sanggar Tari Sari Art Project asal Kabupaten Nunukan yang membawakan Tarian Baluk sebagai representasi kekayaan budaya Nusantara.

Ketua Menteri Sabah, YAB Datuk Seri Panglima Haji Hajiji bin Haji Noor, menegaskan bahwa FKAT telah berkembang menjadi salah satu agenda budaya penting yang tidak hanya menjaga kelestarian warisan budaya berbagai etnik di Sabah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap sektor pariwisata dan perekonomian daerah. Pemerintah Sabah bahkan berencana memasukkan FKAT ke dalam kalender resmi Tahun Melawat Sabah 2027.

Dino menilai rencana tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk terus memperluas kerja sama budaya dan ekonomi dengan Sabah pada masa mendatang.

"Partisipasi Indonesia di FKAT merupakan wujud komitmen kami untuk terus memperkuat hubungan sosial budaya kedua negara. Melalui budaya, pariwisata, dan promosi produk UMKM, kami berharap hubungan Indonesia dan Malaysia, khususnya di wilayah perbatasan, semakin erat dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara," pungkasnya.